Namaku Amir, bocah berumur 12 tahun yang hidup dengan ibuku di suatu pemukiman miskin sudut Ibukota. Ayahku meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan, aku mempunyai seorang adik perempuan berumur 6 tahun.
Aku yang duduk di bangku kelas 6 SD sering membantu ibuku bekerja, beliau bekerja sebagai tukang cuci rumah-rumah warga. Tidak tega dengannya aku ikutan mencari uang setelah pulang sekolah, menjadi seorang buruh angkut di pasar dekat rumahku.
Kadang beliau marah melihatku bekerja namun ini pilihan hidup kami, kalau saja aku dilahirkan sebagai anak seorang kepala pemerintahan aku tidak akan begini. Aku juga memikirkan keadaan adikku yang harus makan-makanan yang bergizi, aku tidak tega melihatnya hanya makan tahu-tempe setiap hari.
Tahun ini aku akan menamatkan sekolahku dan berniat melanjutkannya namun kendala biaya menjadi penyebab utamanya, ibuku jadi lebih sering bekerja untuk menambah biaya masuk sekolahku nanti. Aku juga tidak berpangku tangan, sebelum menjadi buruh angkut aku bekerja sebagai pengantar koran sore ke rumah-rumah.
Sebenarnya aku tidak ingin melanjutkan sekolahku, kasihan ibuku. Namun beliau memaksa, katanya aku harus menjadi orang pintar supaya bisa menjadi kaya.
Ditiap sembahyangku aku selalu berdoa kepada Tuhan agar meringankan beban kami, meringankan beban ibuku. Namun Tuhan belum mengabulkan doaku. Ibu selalu menangis di tiap sembahyangnya, aku makin tidak tega.
Sore ini aku menulis surat, surat untuk orang penting. Orang nomor 1 di Indonesia dan aku harap dia mau membacanya.
Aku tulis rapi suratku agar dia mau menerimanya, aku selipkan kalimat-kalimat indah yang aku pelajari di sekolah.
Aku bercerita tentang kehidupanku, kehidupan rakyat miskin yang susah untuk mencari sesuap nasi. Mungkin apa yang aku tulis mewakili perasaan semua masyarakat kelas bawah.
Aku bertanya, inikah janji presiden kala masih menjadi calon? Harusnya janji itu ditepati, janji mensejahterakan masyarakatnya.
Jujur, kami sebagai kalangan miskin merasa diasingkan dan merasa tidak di perhatikan padahal pada saat pemilihan suara kami juga di pakai.
Pemerintah terlalu sibuk dengan urusan kenaikan gaji dan pembangunan gedung baru. Sedangkan untuk membuat rakyat sejahtera? Cuma janji. Pemerintah bagiku bodoh, mereka pikir kita makan dengan janji mereka?
Sejenak ku pandangi tulisanku kemudian aku melanjutkannya dengan beberapa kalimat.
Selesai sudah surat itu, aku melipatnya dan memasukkannya ke amplop. Kuberikan nama dan tujuan di amplop tersebut. Aku berjalan ke kantor Pos dan menyerahkannya kepada petugas.
Dia sempat bingung saat membaca nama di amplopnya "untuk Presiden dari seorang anak kecil dari golongan bawah yang meminta keadilan" kataku padanya kemudian aku berjalan keluar kantor Pos yang sendirian di depan mejanya sambil memandangi suratku.
Untuk Pemerintah, dari seorang remaja berumur 18 tahun yang meminta keadilan
Minggu, 27 Maret 2011
Kamis, 24 Maret 2011
We Are SHINING STAR
Udah lama ga posting, yup ! banyak cerita di hidup gue yang ga bisa gue bagi buat banyak orang. Gue juga ngerasa gue sedikit individualistis, gue ngerasa gue jadi tipe orang yang bodo amat sama kehidupan oranglain. Mungkin pengaruh lingkungan juga sih :D
Bukan itu sih yang mau gue permasalahin disini, bukan tentang cinta atau pengkhianatan dari sahabat hahaha *curcol*
Gue cuma mau berbagi cerita, dimana gue menikmati pertemanan gue dengan beberapa orang temen gue di sekolah. Bukan dari jurusan yang sama, itulah yang membedakan kami. Bagi gue perbedaan itu menyatukan segalanya dan gue harap pertemanan gue sama mereka ga berakhir di PROM NITE bulan Juli nanti.
Ya, kita menyatu karena KOREA. Hal sepele yang bikin gue akrab sama mereka, berawal dari 1 orang lalu merembet ke yang lainnya.
Jujur awalnya canggung, gue bingung gimana harus nyesuaiin keadaan gue sama mereka *takut ga nyambung bo omongannya*
Ternyata eh ternyata mereka lebih nyablak dari gue hahaha tapi gue seneng, seenggaknya mereka nganggep gue ada, nganggep gue temen dan nanyain keadaan gue *elaah pengen bet ditanyain* hahaha
Gue cuma mau bilang, makasih ya temen-temen sehati gue :)
Vini Vionola, Kyunelza Scarlet, Nate 'aciie'bald, Zhyta 'Hitomi Arishima', Nika Efriandini, Megaa Rosyana Dewii dan Dhebii Septiianii
Bukan itu sih yang mau gue permasalahin disini, bukan tentang cinta atau pengkhianatan dari sahabat hahaha *curcol*
Gue cuma mau berbagi cerita, dimana gue menikmati pertemanan gue dengan beberapa orang temen gue di sekolah. Bukan dari jurusan yang sama, itulah yang membedakan kami. Bagi gue perbedaan itu menyatukan segalanya dan gue harap pertemanan gue sama mereka ga berakhir di PROM NITE bulan Juli nanti.
Ya, kita menyatu karena KOREA. Hal sepele yang bikin gue akrab sama mereka, berawal dari 1 orang lalu merembet ke yang lainnya.
Jujur awalnya canggung, gue bingung gimana harus nyesuaiin keadaan gue sama mereka *takut ga nyambung bo omongannya*
Ternyata eh ternyata mereka lebih nyablak dari gue hahaha tapi gue seneng, seenggaknya mereka nganggep gue ada, nganggep gue temen dan nanyain keadaan gue *elaah pengen bet ditanyain* hahaha
Gue cuma mau bilang, makasih ya temen-temen sehati gue :)
Vini Vionola, Kyunelza Scarlet, Nate 'aciie'bald, Zhyta 'Hitomi Arishima', Nika Efriandini, Megaa Rosyana Dewii dan Dhebii Septiianii
Mawar itu Indah
Mungkin jika ada predikat laki-laki paling pengecut didunia, predikat itu pantas aku sanding. Bukan cuma sebatas pemikiran aku saja tapi beberapa temanku juga mengatakan hal itu. Ya, aku akui aku pengecut. Hanya berani melawan preman-preman yang mengganggu di pasar namun tidak berani menyatakan cinta untuk perempuan yang aku cintai.
Namanya Mawar, sahabatku yang sejak lama aku kenal. Ia cantik, pintar dan rajin beribadah. Sejak lama, bahkan sejak dulu kala aku suka dengannya namun saat bertemu dengannya aku tak mampu untuk mengungkapkan kalimat singkat yang menyatakan cinta. Aku cuma takut ditolak.
Siang ini aku penat, seharian hanya mendengarkan radio sambil memikirkan Mawar seorang. Sebuah lagu menyentuh telingaku dan mewakili perasaanku. Aaah makin galau. Pikirku.
Andai ku di hatimu
Andai ku di pelukmu
Andaikan kau menjadi milikku
Oke cukup, aku mematikan radioku dan berjalan ke arah teras. Menatap sore yang indah dengan cahaya matahari keemasan yang menciptakan suasana tenang nan romantis yang indah.
Telpon selularku berbunyi, aku menatap layarnya. Mawar.
Sontak aku loncat kegirangan karena nama Mawar tertera disana. Saking senangnya aku lupa untuk mengangkat telponya, aku diam dan menatap hapeku berharap Mawar menelpon lagi.
Harapan itu nyata, Mawar menelpon lagi. Tanpa pikir panjang aku mengangkatnya, lama kami mengobrol kemudian ia mengakhiri telponnya dan meninggalkanku sendiri yang sedang menahan perasaanku untuknya.
Andai ia tau seberapa menggebu-gebunya perasaan ini, seberapa lama aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan cinta dan seberapa lama sering aku memikirkannya dan andai ia tau seberapa banyak lagu yang tercipta untuknya
Aku berganti pakaian, mengambil kunci mobil dan bergegas menuju rumahnya. Kali ini aku yakin, tanpa memikirkan keputusannya aku yakin untuk mengatakannya sekarang.
Terinspirasi dari seorang Sahabat yang takut menyatakan cintanya untuk seorang perempuan cantik : Indra a.k.a Cakson :)
Namanya Mawar, sahabatku yang sejak lama aku kenal. Ia cantik, pintar dan rajin beribadah. Sejak lama, bahkan sejak dulu kala aku suka dengannya namun saat bertemu dengannya aku tak mampu untuk mengungkapkan kalimat singkat yang menyatakan cinta. Aku cuma takut ditolak.
Siang ini aku penat, seharian hanya mendengarkan radio sambil memikirkan Mawar seorang. Sebuah lagu menyentuh telingaku dan mewakili perasaanku. Aaah makin galau. Pikirku.
Andai ku di hatimu
Andai ku di pelukmu
Andaikan kau menjadi milikku
Oke cukup, aku mematikan radioku dan berjalan ke arah teras. Menatap sore yang indah dengan cahaya matahari keemasan yang menciptakan suasana tenang nan romantis yang indah.
Telpon selularku berbunyi, aku menatap layarnya. Mawar.
Sontak aku loncat kegirangan karena nama Mawar tertera disana. Saking senangnya aku lupa untuk mengangkat telponya, aku diam dan menatap hapeku berharap Mawar menelpon lagi.
Harapan itu nyata, Mawar menelpon lagi. Tanpa pikir panjang aku mengangkatnya, lama kami mengobrol kemudian ia mengakhiri telponnya dan meninggalkanku sendiri yang sedang menahan perasaanku untuknya.
Andai ia tau seberapa menggebu-gebunya perasaan ini, seberapa lama aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan cinta dan seberapa lama sering aku memikirkannya dan andai ia tau seberapa banyak lagu yang tercipta untuknya
Aku berganti pakaian, mengambil kunci mobil dan bergegas menuju rumahnya. Kali ini aku yakin, tanpa memikirkan keputusannya aku yakin untuk mengatakannya sekarang.
Terinspirasi dari seorang Sahabat yang takut menyatakan cintanya untuk seorang perempuan cantik : Indra a.k.a Cakson :)
Petarung AIDS-ku :)
Namanya Randi, seorang pengidap penyakit AIDS yang aku kagumi. Seorang laki-laki yang lahir 23 tahun lalu dari seorang Ibu yang cantik dan seorang Ayah yang sangat bertanggung jawab. Dia pahlawanku, bukan cuma pendapatku tapi juga bagi oranglain yang mengenalnya.
Aku mengenalnya 8 bulan yang lalu saat aku sedang ditugaskan oleh guru sosialku berkunjung ke lembaga AIDS untuk mencari tau bagaimana sosialisasi mereka. Randi tipe orang yang lebih suka menyendiri, saat aku tau aku harus mewawancarainya rasa takut dan canggung itu menghampiri. Beberapa kali aku mencoba membuat suasana nyaman bagi diriku sendiri namun gagal.
Suasana itu sedikit mencair saat aku tertawa mendengar jawabannya yang memang nyeleneh, dia melihatku aneh saat aku tertawa namun sesaat kemudian ia ikut tertawa dan kami mulai akrab satu sama lain.
Seminggu lebih aku sering datang kesana, hanya untuk sekedar mengobrol dengannya.
Seminggu aku mengenalnya, aku tak pernah tau mengapa ia mengidap penyakit AIDS. Bukannya tak mau bertanya, aku tak mau mengganggu privacy-nya karena bagiku privacy seseorang itu lebih penting di bandingkan rasa ingin tahuku yang besar. Yang aku tau, dia seorang yang tegar, tabah dan penyayang.
Aku ingat betul hari itu, hari dimana untuk pertama kalinya ia mengajakku menonton sebuah film. Ia menggandeng tanganku, seolah-olah ia tak mau melepasnya.
Ia mengantri, membelikan tiket dan memilih tempat duduk. Aku yang memperhatikannya tersenyum dan baru sadar betapa manisnya wajah itu.
Bekas luka di pelipisnya membuatnya semakin manis, apalagi senyumnya. Tawanya yang kadang lepas membuatku senang karena Randi orang yang jarang tertawa.
Randi masih tetap memegang tanganku, masih tak ingin di lepasnya walaupun kami masuk ke studio film dan duduk di bangku masing-masing. Jujur, jantungku mendadak berdegup cepat saat dia makin erat menggenggam tanganku, aku tak berani menatapnya. Sampai film diputar Randi tidak melepaskan tanganku, disela-sela film yang diputar ia mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu.
Aku diam. Tak mampu menjawab, mendadak aku tidak konsen dengan film yang diputar.
***
Randi masih tetap memegang tanganku namun kali ini dengan menatap wajahku yang sudah memerah sejak tadi. Film tadi telah usai sejam yang lalu, dia membawaku ke suatu tempat dimana hanya ada aku, dia dan alam. Aku ingin memalingkan wajahku dan menghindar dari tatapan matanya, namun aku tak mampu dan akhirnya aku pasrah dengan tatapannya itu.
"Jadi? Kepastiannya?" Tanyanya padaku. DEG!. Jantung ini makin berdetak cepat, ia menanyakan jawaban atas pertanyaan tadi di bioskop.
Aku garuk-garuk kepala "Hmm, emang harus dijawab sekarang ya?" Tanyaku polos sambil nyengir, Randi menggeleng. Aku mengangguk, menandakan aku menjawab iya atas pertanyaannya tadi. Randi tersenyum, dia mencium keningku lalu memelukku.
Aku merasakan bau tubuhnya yang hangat, aku pejamkan mataku dan merasakan pelukannya yang mesra. Tak lama, aku merasakan sesuatu yang basah menempel di bibirku. Randi menciumku.
***
6 bulan berlalu begitu cepat, banyak yang aku lewati bersama Randi. Kami tertawa bersama, menangis bersama dan berbagi cerita.
Namun, 2 bulan yang lalu aku kehilangan semuanya, kehilangan raga itu, kehilangan tawa itu, kehilangan tangis itu dan kehilangan saat berbagi itu namun aku tau aku tidak pernah kehilangan cinta itu.
Randi pergi, pergi selamanya karena Tuhan telah memanggilnya.
Bagiku Randi malaikat, pahlawan dan sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Bagaimanapun orang lain menilainya Randi tetap menjadi Randi yang aku kenal.
Tak ada tangis untuk kepergiannya karena dari awal aku tau bahwa semua yang hidup akan kembali padaNya.
Aku menatap pusaranya, menatap nisannya dengan senyuman.
"My Randi My hero, you're still in my heart"
Terinspirasi dari sebuah buku "Waktu Aku sama Mika" - Indi :)
Aku mengenalnya 8 bulan yang lalu saat aku sedang ditugaskan oleh guru sosialku berkunjung ke lembaga AIDS untuk mencari tau bagaimana sosialisasi mereka. Randi tipe orang yang lebih suka menyendiri, saat aku tau aku harus mewawancarainya rasa takut dan canggung itu menghampiri. Beberapa kali aku mencoba membuat suasana nyaman bagi diriku sendiri namun gagal.
Suasana itu sedikit mencair saat aku tertawa mendengar jawabannya yang memang nyeleneh, dia melihatku aneh saat aku tertawa namun sesaat kemudian ia ikut tertawa dan kami mulai akrab satu sama lain.
Seminggu lebih aku sering datang kesana, hanya untuk sekedar mengobrol dengannya.
Seminggu aku mengenalnya, aku tak pernah tau mengapa ia mengidap penyakit AIDS. Bukannya tak mau bertanya, aku tak mau mengganggu privacy-nya karena bagiku privacy seseorang itu lebih penting di bandingkan rasa ingin tahuku yang besar. Yang aku tau, dia seorang yang tegar, tabah dan penyayang.
Aku ingat betul hari itu, hari dimana untuk pertama kalinya ia mengajakku menonton sebuah film. Ia menggandeng tanganku, seolah-olah ia tak mau melepasnya.
Ia mengantri, membelikan tiket dan memilih tempat duduk. Aku yang memperhatikannya tersenyum dan baru sadar betapa manisnya wajah itu.
Bekas luka di pelipisnya membuatnya semakin manis, apalagi senyumnya. Tawanya yang kadang lepas membuatku senang karena Randi orang yang jarang tertawa.
Randi masih tetap memegang tanganku, masih tak ingin di lepasnya walaupun kami masuk ke studio film dan duduk di bangku masing-masing. Jujur, jantungku mendadak berdegup cepat saat dia makin erat menggenggam tanganku, aku tak berani menatapnya. Sampai film diputar Randi tidak melepaskan tanganku, disela-sela film yang diputar ia mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu.
Aku diam. Tak mampu menjawab, mendadak aku tidak konsen dengan film yang diputar.
***
Randi masih tetap memegang tanganku namun kali ini dengan menatap wajahku yang sudah memerah sejak tadi. Film tadi telah usai sejam yang lalu, dia membawaku ke suatu tempat dimana hanya ada aku, dia dan alam. Aku ingin memalingkan wajahku dan menghindar dari tatapan matanya, namun aku tak mampu dan akhirnya aku pasrah dengan tatapannya itu.
"Jadi? Kepastiannya?" Tanyanya padaku. DEG!. Jantung ini makin berdetak cepat, ia menanyakan jawaban atas pertanyaan tadi di bioskop.
Aku garuk-garuk kepala "Hmm, emang harus dijawab sekarang ya?" Tanyaku polos sambil nyengir, Randi menggeleng. Aku mengangguk, menandakan aku menjawab iya atas pertanyaannya tadi. Randi tersenyum, dia mencium keningku lalu memelukku.
Aku merasakan bau tubuhnya yang hangat, aku pejamkan mataku dan merasakan pelukannya yang mesra. Tak lama, aku merasakan sesuatu yang basah menempel di bibirku. Randi menciumku.
***
6 bulan berlalu begitu cepat, banyak yang aku lewati bersama Randi. Kami tertawa bersama, menangis bersama dan berbagi cerita.
Namun, 2 bulan yang lalu aku kehilangan semuanya, kehilangan raga itu, kehilangan tawa itu, kehilangan tangis itu dan kehilangan saat berbagi itu namun aku tau aku tidak pernah kehilangan cinta itu.
Randi pergi, pergi selamanya karena Tuhan telah memanggilnya.
Bagiku Randi malaikat, pahlawan dan sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Bagaimanapun orang lain menilainya Randi tetap menjadi Randi yang aku kenal.
Tak ada tangis untuk kepergiannya karena dari awal aku tau bahwa semua yang hidup akan kembali padaNya.
Aku menatap pusaranya, menatap nisannya dengan senyuman.
"My Randi My hero, you're still in my heart"
Terinspirasi dari sebuah buku "Waktu Aku sama Mika" - Indi :)
Rabu, 23 Maret 2011
Cinta diatas Tissue
Aku memandanginya seraya tersenyum, wajah manis itu yang selalu mengusik tidur nyenyakku. Namanya Silvi, seorang mahasiswi Sastra Indonesia di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta.
Dia duduk di depanku, berkutat dengan sebuah tissue dan bolpoinnya. Entah apa yang di tulisnya, aku ingin melihat tapi Silvi selalu melarang.
Aku masih menunggunya selesai menulis. Kadang aku kesal dengannya, seperti tidak tau tempat idenya datang begitu saja dan mengusik ketenangan kami berdua. Dia tampak serius menulis kata-kata itu, menulis banyak hal yang ada dalam benaknya sekarang sesekali ia berhenti menulis kemudian melanjutkan tulisannya.
Keseriusannya semakin membuat wajahnya makin manis, makin enak untuk dilihat. Ia selesai menulis, memandang wajahku dan tersenyum lebar kemudian menyerahkan tissuenya untukku baca. Ia selalu pamer dengan tulisan-tulisannya.
Bukan sesuatu yang indah tapi kalimatnya sangat mewakili perasaannya sekarang.
Aku menatapnya, dia tersenyum manis. Tatapannya itu yang membuatku meraih bolpoin di tangannya dan menuliskan kalimat di tissue yang sama.
Aku menyerahkan tissue itu kepadanya, dia membacanya kemudian tersenyum lalu menuliskan kalimat lagi.
Dia memberikan kembali tissue itu padaku, aku tertawa dan mengangguk kemudian aku bangun dari kursiku dan meraih kursi didekatnya. Aku mendekat, berbisik ke telinganya "Aku mencintai kamu"
Dia duduk di depanku, berkutat dengan sebuah tissue dan bolpoinnya. Entah apa yang di tulisnya, aku ingin melihat tapi Silvi selalu melarang.
Aku masih menunggunya selesai menulis. Kadang aku kesal dengannya, seperti tidak tau tempat idenya datang begitu saja dan mengusik ketenangan kami berdua. Dia tampak serius menulis kata-kata itu, menulis banyak hal yang ada dalam benaknya sekarang sesekali ia berhenti menulis kemudian melanjutkan tulisannya.
Keseriusannya semakin membuat wajahnya makin manis, makin enak untuk dilihat. Ia selesai menulis, memandang wajahku dan tersenyum lebar kemudian menyerahkan tissuenya untukku baca. Ia selalu pamer dengan tulisan-tulisannya.
Bukan sesuatu yang indah tapi kalimatnya sangat mewakili perasaannya sekarang.
Tuhan itu baik, dia menciptakan kamu untuk aku cintai. Tapi kadang sempat terpikir olehku, Tuhan itu jahat karena dia menciptakan lubang yang besar bagiku untuk memilikimu :(
Aku menatapnya, dia tersenyum manis. Tatapannya itu yang membuatku meraih bolpoin di tangannya dan menuliskan kalimat di tissue yang sama.
Kamu tau anak kecil? Aku lebih suka bagaimana cara mereka menyayangi dan mencintai pasangannya, bukan karena kepolosan mereka tapi karena mereka tidak memperdulikan apapun. Yang mereka tau, mereka saling mencintai dan itu yang harus mereka pertahankan :) - Indra
Aku menyerahkan tissue itu kepadanya, dia membacanya kemudian tersenyum lalu menuliskan kalimat lagi.
Aku mengerti, masih banyak jalan menuju Roma kan? :D
Dia memberikan kembali tissue itu padaku, aku tertawa dan mengangguk kemudian aku bangun dari kursiku dan meraih kursi didekatnya. Aku mendekat, berbisik ke telinganya "Aku mencintai kamu"
Selasa, 01 Februari 2011
Hidup itu perlu di cermati
Saat kamu merasa berada diatas, lihatlah kebawah karena suatu saat, pelan dan pasti kamu akan berada di bawah.
Roda itu berputar, seperti kehidupan yang akan selalu berputar dan akan berhenti pada saatnya nanti.
Masalah itu seperti koin.
Dimana di tiap sisinya mengandung arti dan makna yang seseorang harus tau.
Namun kadang manusia hanya mau melihat sisi satunya, merasa benar dengan pendapat sendiri dan enggan melihat sisi lainnya yang pantas untuk dilihat juga.
Bersikaplah dewasa saat kalian menghadapi masalah.
Bukan bersikap seperti anak kecil yang selalu merasa dirinya benar.
Ingatlah suatu hal bahwa kehidupan itu penuh kepalsuan.
Dimana saat orang tersenyum bukan berarti dia memang sedang bahagia.
Atau saat oranglain menangis bukan berarti dia sedang sedih.
If you judge the book from the cover you never know what the contents of book.
KARMA DOES EXIST gals :)
Roda itu berputar, seperti kehidupan yang akan selalu berputar dan akan berhenti pada saatnya nanti.
Masalah itu seperti koin.
Dimana di tiap sisinya mengandung arti dan makna yang seseorang harus tau.
Namun kadang manusia hanya mau melihat sisi satunya, merasa benar dengan pendapat sendiri dan enggan melihat sisi lainnya yang pantas untuk dilihat juga.
Bersikaplah dewasa saat kalian menghadapi masalah.
Bukan bersikap seperti anak kecil yang selalu merasa dirinya benar.
Ingatlah suatu hal bahwa kehidupan itu penuh kepalsuan.
Dimana saat orang tersenyum bukan berarti dia memang sedang bahagia.
Atau saat oranglain menangis bukan berarti dia sedang sedih.
If you judge the book from the cover you never know what the contents of book.
KARMA DOES EXIST gals :)
Sepuluh F in memories :')
Aku masih ingat dimana aku pertama kali melihat sekolah itu
Dimana pertama kali aku menyusuri koridornya
Dan dimana pertama kali aku menginjakkan kaki di lapangannya.
Sekolah penuh kenangan antara aku dan sahabat-sahabatku
Aku masih ingat saat hari Minggu sore itu aku datang dan berkumpul dengan orang-orang baru di tengah lapangan.
Bertemu orang-orang yang kan menjadi teman baru.
Dan bertemu dengan orang-orang yang notabane-nya kan menjadi seniorku selama seminggu.
Menjalani 5 hari MOS bukan hal yang gampang.
Dimana kita harus menuruti semua hal yang diperintahkan oleh senior.
5 hari itu sangat menyiksa.
Lebih banyak di teriaki dan di maki.
5 hari itu terlewat.
Kami berkumpul disutu kelas yang bisa dibilang ISTIMEWA.
Sepuluh F. Menjadi kebanggan sendiri dimana menjadi kelas ke-6 pertama :)
Disini, banyak orang-orang istimewa.
Kami berkumpul tanpa memandang apapun, datang dari berbagai sekolah dengan pemikiran dan kecerdasan otak yang berbeda-beda.
Kita semua sama, dimana kita juga makan nasi dan tinggal di Indonesia Raya ini.
Itulah mengapa kami menamakan diri kami ISTIMEWA.
Bulan pertama, kedua ketiga dan seterusnya menjadi moment paling berharga.
Canda, tawa, sedih, tangis kita lewatin sama-sama.
Masih ingat dengan jelas bagaimana kami mengikuti perlombaan 17 Agustus.
Semuanya mengikuti lomba, saling dukung, saling tertawa dan saling menghibur saat kelas kami kalah.
Walaupun cuma 6 bulan, tapi aku tau bagaimana caranya memperlakukan sahabat dan bagaimana harusnya menjadi keluarga dalam 1 kelas.
Itulah mereka.
Sepuluh F in memories :')
Dimana pertama kali aku menyusuri koridornya
Dan dimana pertama kali aku menginjakkan kaki di lapangannya.
Sekolah penuh kenangan antara aku dan sahabat-sahabatku
Aku masih ingat saat hari Minggu sore itu aku datang dan berkumpul dengan orang-orang baru di tengah lapangan.
Bertemu orang-orang yang kan menjadi teman baru.
Dan bertemu dengan orang-orang yang notabane-nya kan menjadi seniorku selama seminggu.
Menjalani 5 hari MOS bukan hal yang gampang.
Dimana kita harus menuruti semua hal yang diperintahkan oleh senior.
5 hari itu sangat menyiksa.
Lebih banyak di teriaki dan di maki.
5 hari itu terlewat.
Kami berkumpul disutu kelas yang bisa dibilang ISTIMEWA.
Sepuluh F. Menjadi kebanggan sendiri dimana menjadi kelas ke-6 pertama :)
Disini, banyak orang-orang istimewa.
Kami berkumpul tanpa memandang apapun, datang dari berbagai sekolah dengan pemikiran dan kecerdasan otak yang berbeda-beda.
Kita semua sama, dimana kita juga makan nasi dan tinggal di Indonesia Raya ini.
Itulah mengapa kami menamakan diri kami ISTIMEWA.
Bulan pertama, kedua ketiga dan seterusnya menjadi moment paling berharga.
Canda, tawa, sedih, tangis kita lewatin sama-sama.
Masih ingat dengan jelas bagaimana kami mengikuti perlombaan 17 Agustus.
Semuanya mengikuti lomba, saling dukung, saling tertawa dan saling menghibur saat kelas kami kalah.
Walaupun cuma 6 bulan, tapi aku tau bagaimana caranya memperlakukan sahabat dan bagaimana harusnya menjadi keluarga dalam 1 kelas.
Itulah mereka.
Sepuluh F in memories :')
Langganan:
Postingan (Atom)
Minggu, 27 Maret 2011
Surat Untuk Presiden
Namaku Amir, bocah berumur 12 tahun yang hidup dengan ibuku di suatu pemukiman miskin sudut Ibukota. Ayahku meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan, aku mempunyai seorang adik perempuan berumur 6 tahun.
Aku yang duduk di bangku kelas 6 SD sering membantu ibuku bekerja, beliau bekerja sebagai tukang cuci rumah-rumah warga. Tidak tega dengannya aku ikutan mencari uang setelah pulang sekolah, menjadi seorang buruh angkut di pasar dekat rumahku.
Kadang beliau marah melihatku bekerja namun ini pilihan hidup kami, kalau saja aku dilahirkan sebagai anak seorang kepala pemerintahan aku tidak akan begini. Aku juga memikirkan keadaan adikku yang harus makan-makanan yang bergizi, aku tidak tega melihatnya hanya makan tahu-tempe setiap hari.
Tahun ini aku akan menamatkan sekolahku dan berniat melanjutkannya namun kendala biaya menjadi penyebab utamanya, ibuku jadi lebih sering bekerja untuk menambah biaya masuk sekolahku nanti. Aku juga tidak berpangku tangan, sebelum menjadi buruh angkut aku bekerja sebagai pengantar koran sore ke rumah-rumah.
Sebenarnya aku tidak ingin melanjutkan sekolahku, kasihan ibuku. Namun beliau memaksa, katanya aku harus menjadi orang pintar supaya bisa menjadi kaya.
Ditiap sembahyangku aku selalu berdoa kepada Tuhan agar meringankan beban kami, meringankan beban ibuku. Namun Tuhan belum mengabulkan doaku. Ibu selalu menangis di tiap sembahyangnya, aku makin tidak tega.
Sore ini aku menulis surat, surat untuk orang penting. Orang nomor 1 di Indonesia dan aku harap dia mau membacanya.
Aku tulis rapi suratku agar dia mau menerimanya, aku selipkan kalimat-kalimat indah yang aku pelajari di sekolah.
Aku bercerita tentang kehidupanku, kehidupan rakyat miskin yang susah untuk mencari sesuap nasi. Mungkin apa yang aku tulis mewakili perasaan semua masyarakat kelas bawah.
Aku bertanya, inikah janji presiden kala masih menjadi calon? Harusnya janji itu ditepati, janji mensejahterakan masyarakatnya.
Jujur, kami sebagai kalangan miskin merasa diasingkan dan merasa tidak di perhatikan padahal pada saat pemilihan suara kami juga di pakai.
Pemerintah terlalu sibuk dengan urusan kenaikan gaji dan pembangunan gedung baru. Sedangkan untuk membuat rakyat sejahtera? Cuma janji. Pemerintah bagiku bodoh, mereka pikir kita makan dengan janji mereka?
Sejenak ku pandangi tulisanku kemudian aku melanjutkannya dengan beberapa kalimat.
Selesai sudah surat itu, aku melipatnya dan memasukkannya ke amplop. Kuberikan nama dan tujuan di amplop tersebut. Aku berjalan ke kantor Pos dan menyerahkannya kepada petugas.
Dia sempat bingung saat membaca nama di amplopnya "untuk Presiden dari seorang anak kecil dari golongan bawah yang meminta keadilan" kataku padanya kemudian aku berjalan keluar kantor Pos yang sendirian di depan mejanya sambil memandangi suratku.
Untuk Pemerintah, dari seorang remaja berumur 18 tahun yang meminta keadilan
Aku yang duduk di bangku kelas 6 SD sering membantu ibuku bekerja, beliau bekerja sebagai tukang cuci rumah-rumah warga. Tidak tega dengannya aku ikutan mencari uang setelah pulang sekolah, menjadi seorang buruh angkut di pasar dekat rumahku.
Kadang beliau marah melihatku bekerja namun ini pilihan hidup kami, kalau saja aku dilahirkan sebagai anak seorang kepala pemerintahan aku tidak akan begini. Aku juga memikirkan keadaan adikku yang harus makan-makanan yang bergizi, aku tidak tega melihatnya hanya makan tahu-tempe setiap hari.
Tahun ini aku akan menamatkan sekolahku dan berniat melanjutkannya namun kendala biaya menjadi penyebab utamanya, ibuku jadi lebih sering bekerja untuk menambah biaya masuk sekolahku nanti. Aku juga tidak berpangku tangan, sebelum menjadi buruh angkut aku bekerja sebagai pengantar koran sore ke rumah-rumah.
Sebenarnya aku tidak ingin melanjutkan sekolahku, kasihan ibuku. Namun beliau memaksa, katanya aku harus menjadi orang pintar supaya bisa menjadi kaya.
Ditiap sembahyangku aku selalu berdoa kepada Tuhan agar meringankan beban kami, meringankan beban ibuku. Namun Tuhan belum mengabulkan doaku. Ibu selalu menangis di tiap sembahyangnya, aku makin tidak tega.
Sore ini aku menulis surat, surat untuk orang penting. Orang nomor 1 di Indonesia dan aku harap dia mau membacanya.
Aku tulis rapi suratku agar dia mau menerimanya, aku selipkan kalimat-kalimat indah yang aku pelajari di sekolah.
Aku bercerita tentang kehidupanku, kehidupan rakyat miskin yang susah untuk mencari sesuap nasi. Mungkin apa yang aku tulis mewakili perasaan semua masyarakat kelas bawah.
Aku bertanya, inikah janji presiden kala masih menjadi calon? Harusnya janji itu ditepati, janji mensejahterakan masyarakatnya.
Jujur, kami sebagai kalangan miskin merasa diasingkan dan merasa tidak di perhatikan padahal pada saat pemilihan suara kami juga di pakai.
Pemerintah terlalu sibuk dengan urusan kenaikan gaji dan pembangunan gedung baru. Sedangkan untuk membuat rakyat sejahtera? Cuma janji. Pemerintah bagiku bodoh, mereka pikir kita makan dengan janji mereka?
Sejenak ku pandangi tulisanku kemudian aku melanjutkannya dengan beberapa kalimat.
Selesai sudah surat itu, aku melipatnya dan memasukkannya ke amplop. Kuberikan nama dan tujuan di amplop tersebut. Aku berjalan ke kantor Pos dan menyerahkannya kepada petugas.
Dia sempat bingung saat membaca nama di amplopnya "untuk Presiden dari seorang anak kecil dari golongan bawah yang meminta keadilan" kataku padanya kemudian aku berjalan keluar kantor Pos yang sendirian di depan mejanya sambil memandangi suratku.
Untuk Pemerintah, dari seorang remaja berumur 18 tahun yang meminta keadilan
Kamis, 24 Maret 2011
We Are SHINING STAR
Udah lama ga posting, yup ! banyak cerita di hidup gue yang ga bisa gue bagi buat banyak orang. Gue juga ngerasa gue sedikit individualistis, gue ngerasa gue jadi tipe orang yang bodo amat sama kehidupan oranglain. Mungkin pengaruh lingkungan juga sih :D
Bukan itu sih yang mau gue permasalahin disini, bukan tentang cinta atau pengkhianatan dari sahabat hahaha *curcol*
Gue cuma mau berbagi cerita, dimana gue menikmati pertemanan gue dengan beberapa orang temen gue di sekolah. Bukan dari jurusan yang sama, itulah yang membedakan kami. Bagi gue perbedaan itu menyatukan segalanya dan gue harap pertemanan gue sama mereka ga berakhir di PROM NITE bulan Juli nanti.
Ya, kita menyatu karena KOREA. Hal sepele yang bikin gue akrab sama mereka, berawal dari 1 orang lalu merembet ke yang lainnya.
Jujur awalnya canggung, gue bingung gimana harus nyesuaiin keadaan gue sama mereka *takut ga nyambung bo omongannya*
Ternyata eh ternyata mereka lebih nyablak dari gue hahaha tapi gue seneng, seenggaknya mereka nganggep gue ada, nganggep gue temen dan nanyain keadaan gue *elaah pengen bet ditanyain* hahaha
Gue cuma mau bilang, makasih ya temen-temen sehati gue :)
Vini Vionola, Kyunelza Scarlet, Nate 'aciie'bald, Zhyta 'Hitomi Arishima', Nika Efriandini, Megaa Rosyana Dewii dan Dhebii Septiianii
Bukan itu sih yang mau gue permasalahin disini, bukan tentang cinta atau pengkhianatan dari sahabat hahaha *curcol*
Gue cuma mau berbagi cerita, dimana gue menikmati pertemanan gue dengan beberapa orang temen gue di sekolah. Bukan dari jurusan yang sama, itulah yang membedakan kami. Bagi gue perbedaan itu menyatukan segalanya dan gue harap pertemanan gue sama mereka ga berakhir di PROM NITE bulan Juli nanti.
Ya, kita menyatu karena KOREA. Hal sepele yang bikin gue akrab sama mereka, berawal dari 1 orang lalu merembet ke yang lainnya.
Jujur awalnya canggung, gue bingung gimana harus nyesuaiin keadaan gue sama mereka *takut ga nyambung bo omongannya*
Ternyata eh ternyata mereka lebih nyablak dari gue hahaha tapi gue seneng, seenggaknya mereka nganggep gue ada, nganggep gue temen dan nanyain keadaan gue *elaah pengen bet ditanyain* hahaha
Gue cuma mau bilang, makasih ya temen-temen sehati gue :)
Vini Vionola, Kyunelza Scarlet, Nate 'aciie'bald, Zhyta 'Hitomi Arishima', Nika Efriandini, Megaa Rosyana Dewii dan Dhebii Septiianii
Mawar itu Indah
Mungkin jika ada predikat laki-laki paling pengecut didunia, predikat itu pantas aku sanding. Bukan cuma sebatas pemikiran aku saja tapi beberapa temanku juga mengatakan hal itu. Ya, aku akui aku pengecut. Hanya berani melawan preman-preman yang mengganggu di pasar namun tidak berani menyatakan cinta untuk perempuan yang aku cintai.
Namanya Mawar, sahabatku yang sejak lama aku kenal. Ia cantik, pintar dan rajin beribadah. Sejak lama, bahkan sejak dulu kala aku suka dengannya namun saat bertemu dengannya aku tak mampu untuk mengungkapkan kalimat singkat yang menyatakan cinta. Aku cuma takut ditolak.
Siang ini aku penat, seharian hanya mendengarkan radio sambil memikirkan Mawar seorang. Sebuah lagu menyentuh telingaku dan mewakili perasaanku. Aaah makin galau. Pikirku.
Andai ku di hatimu
Andai ku di pelukmu
Andaikan kau menjadi milikku
Oke cukup, aku mematikan radioku dan berjalan ke arah teras. Menatap sore yang indah dengan cahaya matahari keemasan yang menciptakan suasana tenang nan romantis yang indah.
Telpon selularku berbunyi, aku menatap layarnya. Mawar.
Sontak aku loncat kegirangan karena nama Mawar tertera disana. Saking senangnya aku lupa untuk mengangkat telponya, aku diam dan menatap hapeku berharap Mawar menelpon lagi.
Harapan itu nyata, Mawar menelpon lagi. Tanpa pikir panjang aku mengangkatnya, lama kami mengobrol kemudian ia mengakhiri telponnya dan meninggalkanku sendiri yang sedang menahan perasaanku untuknya.
Andai ia tau seberapa menggebu-gebunya perasaan ini, seberapa lama aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan cinta dan seberapa lama sering aku memikirkannya dan andai ia tau seberapa banyak lagu yang tercipta untuknya
Aku berganti pakaian, mengambil kunci mobil dan bergegas menuju rumahnya. Kali ini aku yakin, tanpa memikirkan keputusannya aku yakin untuk mengatakannya sekarang.
Terinspirasi dari seorang Sahabat yang takut menyatakan cintanya untuk seorang perempuan cantik : Indra a.k.a Cakson :)
Namanya Mawar, sahabatku yang sejak lama aku kenal. Ia cantik, pintar dan rajin beribadah. Sejak lama, bahkan sejak dulu kala aku suka dengannya namun saat bertemu dengannya aku tak mampu untuk mengungkapkan kalimat singkat yang menyatakan cinta. Aku cuma takut ditolak.
Siang ini aku penat, seharian hanya mendengarkan radio sambil memikirkan Mawar seorang. Sebuah lagu menyentuh telingaku dan mewakili perasaanku. Aaah makin galau. Pikirku.
Andai ku di hatimu
Andai ku di pelukmu
Andaikan kau menjadi milikku
Oke cukup, aku mematikan radioku dan berjalan ke arah teras. Menatap sore yang indah dengan cahaya matahari keemasan yang menciptakan suasana tenang nan romantis yang indah.
Telpon selularku berbunyi, aku menatap layarnya. Mawar.
Sontak aku loncat kegirangan karena nama Mawar tertera disana. Saking senangnya aku lupa untuk mengangkat telponya, aku diam dan menatap hapeku berharap Mawar menelpon lagi.
Harapan itu nyata, Mawar menelpon lagi. Tanpa pikir panjang aku mengangkatnya, lama kami mengobrol kemudian ia mengakhiri telponnya dan meninggalkanku sendiri yang sedang menahan perasaanku untuknya.
Andai ia tau seberapa menggebu-gebunya perasaan ini, seberapa lama aku menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan cinta dan seberapa lama sering aku memikirkannya dan andai ia tau seberapa banyak lagu yang tercipta untuknya
Aku berganti pakaian, mengambil kunci mobil dan bergegas menuju rumahnya. Kali ini aku yakin, tanpa memikirkan keputusannya aku yakin untuk mengatakannya sekarang.
Terinspirasi dari seorang Sahabat yang takut menyatakan cintanya untuk seorang perempuan cantik : Indra a.k.a Cakson :)
Petarung AIDS-ku :)
Namanya Randi, seorang pengidap penyakit AIDS yang aku kagumi. Seorang laki-laki yang lahir 23 tahun lalu dari seorang Ibu yang cantik dan seorang Ayah yang sangat bertanggung jawab. Dia pahlawanku, bukan cuma pendapatku tapi juga bagi oranglain yang mengenalnya.
Aku mengenalnya 8 bulan yang lalu saat aku sedang ditugaskan oleh guru sosialku berkunjung ke lembaga AIDS untuk mencari tau bagaimana sosialisasi mereka. Randi tipe orang yang lebih suka menyendiri, saat aku tau aku harus mewawancarainya rasa takut dan canggung itu menghampiri. Beberapa kali aku mencoba membuat suasana nyaman bagi diriku sendiri namun gagal.
Suasana itu sedikit mencair saat aku tertawa mendengar jawabannya yang memang nyeleneh, dia melihatku aneh saat aku tertawa namun sesaat kemudian ia ikut tertawa dan kami mulai akrab satu sama lain.
Seminggu lebih aku sering datang kesana, hanya untuk sekedar mengobrol dengannya.
Seminggu aku mengenalnya, aku tak pernah tau mengapa ia mengidap penyakit AIDS. Bukannya tak mau bertanya, aku tak mau mengganggu privacy-nya karena bagiku privacy seseorang itu lebih penting di bandingkan rasa ingin tahuku yang besar. Yang aku tau, dia seorang yang tegar, tabah dan penyayang.
Aku ingat betul hari itu, hari dimana untuk pertama kalinya ia mengajakku menonton sebuah film. Ia menggandeng tanganku, seolah-olah ia tak mau melepasnya.
Ia mengantri, membelikan tiket dan memilih tempat duduk. Aku yang memperhatikannya tersenyum dan baru sadar betapa manisnya wajah itu.
Bekas luka di pelipisnya membuatnya semakin manis, apalagi senyumnya. Tawanya yang kadang lepas membuatku senang karena Randi orang yang jarang tertawa.
Randi masih tetap memegang tanganku, masih tak ingin di lepasnya walaupun kami masuk ke studio film dan duduk di bangku masing-masing. Jujur, jantungku mendadak berdegup cepat saat dia makin erat menggenggam tanganku, aku tak berani menatapnya. Sampai film diputar Randi tidak melepaskan tanganku, disela-sela film yang diputar ia mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu.
Aku diam. Tak mampu menjawab, mendadak aku tidak konsen dengan film yang diputar.
***
Randi masih tetap memegang tanganku namun kali ini dengan menatap wajahku yang sudah memerah sejak tadi. Film tadi telah usai sejam yang lalu, dia membawaku ke suatu tempat dimana hanya ada aku, dia dan alam. Aku ingin memalingkan wajahku dan menghindar dari tatapan matanya, namun aku tak mampu dan akhirnya aku pasrah dengan tatapannya itu.
"Jadi? Kepastiannya?" Tanyanya padaku. DEG!. Jantung ini makin berdetak cepat, ia menanyakan jawaban atas pertanyaan tadi di bioskop.
Aku garuk-garuk kepala "Hmm, emang harus dijawab sekarang ya?" Tanyaku polos sambil nyengir, Randi menggeleng. Aku mengangguk, menandakan aku menjawab iya atas pertanyaannya tadi. Randi tersenyum, dia mencium keningku lalu memelukku.
Aku merasakan bau tubuhnya yang hangat, aku pejamkan mataku dan merasakan pelukannya yang mesra. Tak lama, aku merasakan sesuatu yang basah menempel di bibirku. Randi menciumku.
***
6 bulan berlalu begitu cepat, banyak yang aku lewati bersama Randi. Kami tertawa bersama, menangis bersama dan berbagi cerita.
Namun, 2 bulan yang lalu aku kehilangan semuanya, kehilangan raga itu, kehilangan tawa itu, kehilangan tangis itu dan kehilangan saat berbagi itu namun aku tau aku tidak pernah kehilangan cinta itu.
Randi pergi, pergi selamanya karena Tuhan telah memanggilnya.
Bagiku Randi malaikat, pahlawan dan sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Bagaimanapun orang lain menilainya Randi tetap menjadi Randi yang aku kenal.
Tak ada tangis untuk kepergiannya karena dari awal aku tau bahwa semua yang hidup akan kembali padaNya.
Aku menatap pusaranya, menatap nisannya dengan senyuman.
"My Randi My hero, you're still in my heart"
Terinspirasi dari sebuah buku "Waktu Aku sama Mika" - Indi :)
Aku mengenalnya 8 bulan yang lalu saat aku sedang ditugaskan oleh guru sosialku berkunjung ke lembaga AIDS untuk mencari tau bagaimana sosialisasi mereka. Randi tipe orang yang lebih suka menyendiri, saat aku tau aku harus mewawancarainya rasa takut dan canggung itu menghampiri. Beberapa kali aku mencoba membuat suasana nyaman bagi diriku sendiri namun gagal.
Suasana itu sedikit mencair saat aku tertawa mendengar jawabannya yang memang nyeleneh, dia melihatku aneh saat aku tertawa namun sesaat kemudian ia ikut tertawa dan kami mulai akrab satu sama lain.
Seminggu lebih aku sering datang kesana, hanya untuk sekedar mengobrol dengannya.
Seminggu aku mengenalnya, aku tak pernah tau mengapa ia mengidap penyakit AIDS. Bukannya tak mau bertanya, aku tak mau mengganggu privacy-nya karena bagiku privacy seseorang itu lebih penting di bandingkan rasa ingin tahuku yang besar. Yang aku tau, dia seorang yang tegar, tabah dan penyayang.
Aku ingat betul hari itu, hari dimana untuk pertama kalinya ia mengajakku menonton sebuah film. Ia menggandeng tanganku, seolah-olah ia tak mau melepasnya.
Ia mengantri, membelikan tiket dan memilih tempat duduk. Aku yang memperhatikannya tersenyum dan baru sadar betapa manisnya wajah itu.
Bekas luka di pelipisnya membuatnya semakin manis, apalagi senyumnya. Tawanya yang kadang lepas membuatku senang karena Randi orang yang jarang tertawa.
Randi masih tetap memegang tanganku, masih tak ingin di lepasnya walaupun kami masuk ke studio film dan duduk di bangku masing-masing. Jujur, jantungku mendadak berdegup cepat saat dia makin erat menggenggam tanganku, aku tak berani menatapnya. Sampai film diputar Randi tidak melepaskan tanganku, disela-sela film yang diputar ia mendekat ke telingaku dan membisikkan sesuatu.
Aku diam. Tak mampu menjawab, mendadak aku tidak konsen dengan film yang diputar.
***
Randi masih tetap memegang tanganku namun kali ini dengan menatap wajahku yang sudah memerah sejak tadi. Film tadi telah usai sejam yang lalu, dia membawaku ke suatu tempat dimana hanya ada aku, dia dan alam. Aku ingin memalingkan wajahku dan menghindar dari tatapan matanya, namun aku tak mampu dan akhirnya aku pasrah dengan tatapannya itu.
"Jadi? Kepastiannya?" Tanyanya padaku. DEG!. Jantung ini makin berdetak cepat, ia menanyakan jawaban atas pertanyaan tadi di bioskop.
Aku garuk-garuk kepala "Hmm, emang harus dijawab sekarang ya?" Tanyaku polos sambil nyengir, Randi menggeleng. Aku mengangguk, menandakan aku menjawab iya atas pertanyaannya tadi. Randi tersenyum, dia mencium keningku lalu memelukku.
Aku merasakan bau tubuhnya yang hangat, aku pejamkan mataku dan merasakan pelukannya yang mesra. Tak lama, aku merasakan sesuatu yang basah menempel di bibirku. Randi menciumku.
***
6 bulan berlalu begitu cepat, banyak yang aku lewati bersama Randi. Kami tertawa bersama, menangis bersama dan berbagi cerita.
Namun, 2 bulan yang lalu aku kehilangan semuanya, kehilangan raga itu, kehilangan tawa itu, kehilangan tangis itu dan kehilangan saat berbagi itu namun aku tau aku tidak pernah kehilangan cinta itu.
Randi pergi, pergi selamanya karena Tuhan telah memanggilnya.
Bagiku Randi malaikat, pahlawan dan sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Bagaimanapun orang lain menilainya Randi tetap menjadi Randi yang aku kenal.
Tak ada tangis untuk kepergiannya karena dari awal aku tau bahwa semua yang hidup akan kembali padaNya.
Aku menatap pusaranya, menatap nisannya dengan senyuman.
"My Randi My hero, you're still in my heart"
Terinspirasi dari sebuah buku "Waktu Aku sama Mika" - Indi :)
Rabu, 23 Maret 2011
Cinta diatas Tissue
Aku memandanginya seraya tersenyum, wajah manis itu yang selalu mengusik tidur nyenyakku. Namanya Silvi, seorang mahasiswi Sastra Indonesia di salah satu Perguruan Tinggi di Jakarta.
Dia duduk di depanku, berkutat dengan sebuah tissue dan bolpoinnya. Entah apa yang di tulisnya, aku ingin melihat tapi Silvi selalu melarang.
Aku masih menunggunya selesai menulis. Kadang aku kesal dengannya, seperti tidak tau tempat idenya datang begitu saja dan mengusik ketenangan kami berdua. Dia tampak serius menulis kata-kata itu, menulis banyak hal yang ada dalam benaknya sekarang sesekali ia berhenti menulis kemudian melanjutkan tulisannya.
Keseriusannya semakin membuat wajahnya makin manis, makin enak untuk dilihat. Ia selesai menulis, memandang wajahku dan tersenyum lebar kemudian menyerahkan tissuenya untukku baca. Ia selalu pamer dengan tulisan-tulisannya.
Bukan sesuatu yang indah tapi kalimatnya sangat mewakili perasaannya sekarang.
Aku menatapnya, dia tersenyum manis. Tatapannya itu yang membuatku meraih bolpoin di tangannya dan menuliskan kalimat di tissue yang sama.
Aku menyerahkan tissue itu kepadanya, dia membacanya kemudian tersenyum lalu menuliskan kalimat lagi.
Dia memberikan kembali tissue itu padaku, aku tertawa dan mengangguk kemudian aku bangun dari kursiku dan meraih kursi didekatnya. Aku mendekat, berbisik ke telinganya "Aku mencintai kamu"
Dia duduk di depanku, berkutat dengan sebuah tissue dan bolpoinnya. Entah apa yang di tulisnya, aku ingin melihat tapi Silvi selalu melarang.
Aku masih menunggunya selesai menulis. Kadang aku kesal dengannya, seperti tidak tau tempat idenya datang begitu saja dan mengusik ketenangan kami berdua. Dia tampak serius menulis kata-kata itu, menulis banyak hal yang ada dalam benaknya sekarang sesekali ia berhenti menulis kemudian melanjutkan tulisannya.
Keseriusannya semakin membuat wajahnya makin manis, makin enak untuk dilihat. Ia selesai menulis, memandang wajahku dan tersenyum lebar kemudian menyerahkan tissuenya untukku baca. Ia selalu pamer dengan tulisan-tulisannya.
Bukan sesuatu yang indah tapi kalimatnya sangat mewakili perasaannya sekarang.
Tuhan itu baik, dia menciptakan kamu untuk aku cintai. Tapi kadang sempat terpikir olehku, Tuhan itu jahat karena dia menciptakan lubang yang besar bagiku untuk memilikimu :(
Aku menatapnya, dia tersenyum manis. Tatapannya itu yang membuatku meraih bolpoin di tangannya dan menuliskan kalimat di tissue yang sama.
Kamu tau anak kecil? Aku lebih suka bagaimana cara mereka menyayangi dan mencintai pasangannya, bukan karena kepolosan mereka tapi karena mereka tidak memperdulikan apapun. Yang mereka tau, mereka saling mencintai dan itu yang harus mereka pertahankan :) - Indra
Aku menyerahkan tissue itu kepadanya, dia membacanya kemudian tersenyum lalu menuliskan kalimat lagi.
Aku mengerti, masih banyak jalan menuju Roma kan? :D
Dia memberikan kembali tissue itu padaku, aku tertawa dan mengangguk kemudian aku bangun dari kursiku dan meraih kursi didekatnya. Aku mendekat, berbisik ke telinganya "Aku mencintai kamu"
Selasa, 01 Februari 2011
Hidup itu perlu di cermati
Saat kamu merasa berada diatas, lihatlah kebawah karena suatu saat, pelan dan pasti kamu akan berada di bawah.
Roda itu berputar, seperti kehidupan yang akan selalu berputar dan akan berhenti pada saatnya nanti.
Masalah itu seperti koin.
Dimana di tiap sisinya mengandung arti dan makna yang seseorang harus tau.
Namun kadang manusia hanya mau melihat sisi satunya, merasa benar dengan pendapat sendiri dan enggan melihat sisi lainnya yang pantas untuk dilihat juga.
Bersikaplah dewasa saat kalian menghadapi masalah.
Bukan bersikap seperti anak kecil yang selalu merasa dirinya benar.
Ingatlah suatu hal bahwa kehidupan itu penuh kepalsuan.
Dimana saat orang tersenyum bukan berarti dia memang sedang bahagia.
Atau saat oranglain menangis bukan berarti dia sedang sedih.
If you judge the book from the cover you never know what the contents of book.
KARMA DOES EXIST gals :)
Roda itu berputar, seperti kehidupan yang akan selalu berputar dan akan berhenti pada saatnya nanti.
Masalah itu seperti koin.
Dimana di tiap sisinya mengandung arti dan makna yang seseorang harus tau.
Namun kadang manusia hanya mau melihat sisi satunya, merasa benar dengan pendapat sendiri dan enggan melihat sisi lainnya yang pantas untuk dilihat juga.
Bersikaplah dewasa saat kalian menghadapi masalah.
Bukan bersikap seperti anak kecil yang selalu merasa dirinya benar.
Ingatlah suatu hal bahwa kehidupan itu penuh kepalsuan.
Dimana saat orang tersenyum bukan berarti dia memang sedang bahagia.
Atau saat oranglain menangis bukan berarti dia sedang sedih.
If you judge the book from the cover you never know what the contents of book.
KARMA DOES EXIST gals :)
Sepuluh F in memories :')
Aku masih ingat dimana aku pertama kali melihat sekolah itu
Dimana pertama kali aku menyusuri koridornya
Dan dimana pertama kali aku menginjakkan kaki di lapangannya.
Sekolah penuh kenangan antara aku dan sahabat-sahabatku
Aku masih ingat saat hari Minggu sore itu aku datang dan berkumpul dengan orang-orang baru di tengah lapangan.
Bertemu orang-orang yang kan menjadi teman baru.
Dan bertemu dengan orang-orang yang notabane-nya kan menjadi seniorku selama seminggu.
Menjalani 5 hari MOS bukan hal yang gampang.
Dimana kita harus menuruti semua hal yang diperintahkan oleh senior.
5 hari itu sangat menyiksa.
Lebih banyak di teriaki dan di maki.
5 hari itu terlewat.
Kami berkumpul disutu kelas yang bisa dibilang ISTIMEWA.
Sepuluh F. Menjadi kebanggan sendiri dimana menjadi kelas ke-6 pertama :)
Disini, banyak orang-orang istimewa.
Kami berkumpul tanpa memandang apapun, datang dari berbagai sekolah dengan pemikiran dan kecerdasan otak yang berbeda-beda.
Kita semua sama, dimana kita juga makan nasi dan tinggal di Indonesia Raya ini.
Itulah mengapa kami menamakan diri kami ISTIMEWA.
Bulan pertama, kedua ketiga dan seterusnya menjadi moment paling berharga.
Canda, tawa, sedih, tangis kita lewatin sama-sama.
Masih ingat dengan jelas bagaimana kami mengikuti perlombaan 17 Agustus.
Semuanya mengikuti lomba, saling dukung, saling tertawa dan saling menghibur saat kelas kami kalah.
Walaupun cuma 6 bulan, tapi aku tau bagaimana caranya memperlakukan sahabat dan bagaimana harusnya menjadi keluarga dalam 1 kelas.
Itulah mereka.
Sepuluh F in memories :')
Dimana pertama kali aku menyusuri koridornya
Dan dimana pertama kali aku menginjakkan kaki di lapangannya.
Sekolah penuh kenangan antara aku dan sahabat-sahabatku
Aku masih ingat saat hari Minggu sore itu aku datang dan berkumpul dengan orang-orang baru di tengah lapangan.
Bertemu orang-orang yang kan menjadi teman baru.
Dan bertemu dengan orang-orang yang notabane-nya kan menjadi seniorku selama seminggu.
Menjalani 5 hari MOS bukan hal yang gampang.
Dimana kita harus menuruti semua hal yang diperintahkan oleh senior.
5 hari itu sangat menyiksa.
Lebih banyak di teriaki dan di maki.
5 hari itu terlewat.
Kami berkumpul disutu kelas yang bisa dibilang ISTIMEWA.
Sepuluh F. Menjadi kebanggan sendiri dimana menjadi kelas ke-6 pertama :)
Disini, banyak orang-orang istimewa.
Kami berkumpul tanpa memandang apapun, datang dari berbagai sekolah dengan pemikiran dan kecerdasan otak yang berbeda-beda.
Kita semua sama, dimana kita juga makan nasi dan tinggal di Indonesia Raya ini.
Itulah mengapa kami menamakan diri kami ISTIMEWA.
Bulan pertama, kedua ketiga dan seterusnya menjadi moment paling berharga.
Canda, tawa, sedih, tangis kita lewatin sama-sama.
Masih ingat dengan jelas bagaimana kami mengikuti perlombaan 17 Agustus.
Semuanya mengikuti lomba, saling dukung, saling tertawa dan saling menghibur saat kelas kami kalah.
Walaupun cuma 6 bulan, tapi aku tau bagaimana caranya memperlakukan sahabat dan bagaimana harusnya menjadi keluarga dalam 1 kelas.
Itulah mereka.
Sepuluh F in memories :')
Langganan:
Postingan (Atom)
Copy Paste hukumannya di penjara 5 tahun lho :). Diberdayakan oleh Blogger.