Pernah menangis? Aku yakin siapapun kalian, kalian pasti pernah menangis.
Akhir-akhir ini aku menangis, entah kenapa. Sama seperti malam sebelumnya, hujan turun dengan lebatnya.
Hujan yang dulu aku senangi tak mampu lagi menjadi sebuah hal yang membuatku tersenyum.
Aku menangis.
Ya, ditengah air lebat yang turun membasahi segala hal yang mampu ia jamah.
Entah apa yang ku tangisi, entah apa yang harus aku galaukan.
Aku tau, manusia itu ditakdirkan sendiri namun aku membenci saat dimana aku benar-benar sendiri tanpa seorang teman ataupun kekasih.
Senin, 16 Mei 2011
Rabu, 11 Mei 2011
Untitled bukan berarti tanpa judul
Mencintai mantan
Aku ga punya alasan mengapa aku mencintai kamu, jadi jangan desak aku dengan pertanyaan. Mengapa kamu masih mencintai aku?
Doa untuk yang terkasih
Tuhan, berikan dia senyuman besok hari. Jujur, cuma itu yg bisa meyakinkan aku betapa bahagianya dia memiliki Tuhan (:
Hubungan Cinta tanpa sebuah status
Aku butuh kepastian tentang hubungan kita, kamu pikir enak apa digantung kaya jemuran begini !
Manusia yang berlapang dada
Aku mencintai org yang membenciku, kenapa? Karena secara tidak sengaja mereka menyayangiku
Menunggu dan pergi
Sampai saat ini aku masih mencintai kamu yang acuh dan jika suatu saat nanti kamu sadar kamu harus tau, cinta itu telah pergi
Egois dan Cinta
Egois itu saat aku menginginkan kamu hanya milik aku tanpa kecuali
Malaikat
Kamu kaya malaikat, datang saat aku ga kuat bertahan hidup
Penyesalan dan keyakinan
Saat kamu pilih dia aku akan rela tp suatu hari kamu pasti akan bilang "aku nyesel pilih dia"
Jomblo
Jomblo terlalu lama itu bukan krn kita ga laku, tp krna kita terlalu pemilih
Menanti
Tiap hari menanti nama kamu nangkring di inbox aku (:
Cinta sebuah pengorbanan
Cinta itu dibuktiin dari seberapa besar pengorbanan dia utk kamu, bukan seberapa sering dia mengucapkan kata cinta utk kamu
Cinta bukan materi
Aku ga butuh harta dari kamu, aku cuma mau hati kamu
Cinta dan Sayang
Saat kamu mampu melepas kekasihmu, berarti kamu blm mencintainya tp hanya sekedar menyayanginya
Pujangga
Aku suka merangkai kata, dimana kata itu akan menjadi kalimat indah untukmu
Garpu dan Sendok
Perempuan dan laki-laki itu bertolak belakang, tp keduanya saling membutuhkan
Kecupan kening
Aku suka bagian dimana kamu mengecup keningku dengan lembut krn aku tau kmu menyayangiku tulus
Gagal gombal
Seandainya aku bisa ngasih kamu bintang yg ada dilangit, akan aku kasih. Sayangnya bintangnya jauh :D maaf ya
Spongebob dan Patrick
Aku mau punya sahabat kaya patrick, biarpun bodoh tp dia selalu berterus terang tentang sahabatnya :)
Apa adanya
Jujur, suara kamu emang jelek tp aku tetep suka kalo kamu lg nyanyi lagu cinta buat aku :)
Tidak sempurna dan bukan Tuhan
Manusia itu punya kelebihan dan kekurangan, seburuk apapun kamu pasti ada 1 hal yg bisa kamu banggakan
Rindu yang salah
Pernah satu kali, aku merindukan seseorang yang ga seharusnya aku rindukan
Cemburu
Aku benci dimana ada bagian aku harus mengalah dan melihatmu bercanda mesra dengan yg lain
Harapan
Pengen deh ada dipikiran kamu, 5 menit aja (:
Cinta tanpa harap
Aku menyayangi kamu lebih dr apa yang kamu tau, bhkan aku ga berharap kamu membalasnya
Adil
Pengen tukeran tempat, supaya kamu tau gimana jadi aku dan aku jadi kamu
Selasa, 12 April 2011
Kesepian itu indah
Pernah ngerasa sendiri?
Kalau ada kata diatas kata kesepian mungkin kata itu yang akan kupakai untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Memang banyak orang disekitarku, mengelilingiku dan tanpa kusadari memberi warna dalam kehidupanku.
Namun, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam aku merasakan kesepian yang oranglain tidak mengetahuinya.
Kesepian bagiku seperti koin yang memiliki 2 sisi. Kadang di butuhkan kadang pula ingin di enyahkan.
Namun bagiku kesepian itu indah, mampu menciptakan sebuah sisi lain dari seorang anak manusia.
Sebuah sisi yang bisa dilihat hanya saat kesepian itu datang
Bagi yang merasa kesepian ditulis dengan penuh rasa ketidakpastian
Kalau ada kata diatas kata kesepian mungkin kata itu yang akan kupakai untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Memang banyak orang disekitarku, mengelilingiku dan tanpa kusadari memberi warna dalam kehidupanku.
Namun, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam aku merasakan kesepian yang oranglain tidak mengetahuinya.
Kesepian bagiku seperti koin yang memiliki 2 sisi. Kadang di butuhkan kadang pula ingin di enyahkan.
Namun bagiku kesepian itu indah, mampu menciptakan sebuah sisi lain dari seorang anak manusia.
Sebuah sisi yang bisa dilihat hanya saat kesepian itu datang
Bagi yang merasa kesepian ditulis dengan penuh rasa ketidakpastian
Senin, 11 April 2011
Tak tau makna = Buta
Menciptakan sebuah rasa tanpa tau maknanya sama saja melihat dalam ruangan tanpa lampu. Gelap. Tak tau harus kemana. Bukan keinginanku untuk besar dari keluarga broken home, semua orang mencibir, menjauhi dan memusuhi seakan perceraian adalah sebuah aib.
Mereka tak sesungguhnya mengerti apa itu arti perpisahan atau perceraian dan yang mereka mengerti hanyalah ketidakmampuan keduanya untuk menjalani kehidupan. Untuk apa mereka menikah kalau harus berakhir dengan perceraian, bukaknkah pernikahan itu di tuntut untuk saling bersama hingga Tuhan yang memisahkan mereka?!
Perceraian 5 tahun itu membuatku tak mudah untuk memercayai orang-orang yang dekat denganku. Sejak kecilpun aku tak mempunyai teman, tak ada yang mau berteman tepatnya. Entah apa yang salah dengan diriku. Aku tumbuh dengan berbagai hinaan dan cacian orang-orang, membuatku selalu sinis kepada oranglain.
Saat di jalan atau dimanapun aku berada dan ada oranglain melihatku dengan tatapan aneh, aku selalu menatap balik dengan tatapan "apa! Ada yang salah sama gue?!". Sejak 5 tahun yang lalu aku memilih tinggal sendiri di sebuah kost-kostan dekat kampus.
Sebenarnya aku punya kakak. Laki-laki. Tampan dan cerdas. Namun perceraian 5 tahun lalu membuatnya jelek dan bodoh dari hari ke hari.
Ia pergi. Selamanya. Meninggalkan tangis dan luka semakin dalam untukku. 5 tahun yang merubah segalanya. Tawa menjadi duka dan semakin perih rasanya.
2 tahun lalu, ayah menikah lagi dengan seorang perempuan muda beranak 1, memiliki kesenangan sendiri diatas duka anaknya. Baru setahun umur mereka, ayah terkena stroke dan melumpuhkan hampir semua anggota tubuhnya.
Istri baru yang masih muda itu tak sanggu mengurusi ayah, sebulan kemudian mereka bercerai. Aku yang akhirnya mengurusi semua kebutuhan ayah selama ia sakit. Ibu membantu? Tidak, ia malah sibuk mengurusi pernikahannya dengan seorang pengusaha sukses dari Medan.
Akan ada bahagia lagi diatas penderitaan yang panjang ini. Saat pernikahan mereka aku sengaja tidak datang. Untuk apa? Memperlakukan diri sendiri? Sudah cukup bagiku mendengar cacian banyak orang.
Ibu habis-habisan memakiku karena ketidakhadiranku, baginya tidak sopan. Aku menjawab pertanyaannya dengan enteng "untuk apa? Bersenang-senang diatas penderitaan ayah?"
Wajahnya berubah makin garang, tangannya siap menamparku. Wajahku yang masih tegak menatapnya dan seakan menantangnya membuat nyalinya surut untuk menamparku, dengan kesal dia beranjak pergi meninggalkan rumah ayah.
4 bulan berlalu, ayah tak sanggup lagi menahan deritanya. Ia pergi. Menyusul mas Ari yang telah tinggal di surga. Kembali. Luka itu tergores panjang di hati ini.
Ibu masih bahagia dengan pernikahannya, bahkan yang aku dengar dia telah hamil padahal yang aku tau umur ibu bukan umur yang bagus lagi untuk hamil. Aku akhirnya kembali ke kost-kostan kecilku dan kembali memulai kesendirian.
Dari awal aku sudah bilang, menciptakan sebuah perasaan tanpa tau maknanya sama saja buta. Dan itu yang kini terjadi dengan ibuku, suami barunya ternyata memiliki istri dan ibuku habis di teror oleh perempuan gila itu. Akhirnya mereka bercerai dan sang mantan suami meninggalkan ibu dengan perut bunctitnya yang semakin hari semakin besar, tanpa uang tanpa makanan.
Akhirnya aku yang mengurus ibu, mengantarnya kontrol dan membelikan makanan-makanan yang diinginkan si bayi. Dokter sebenarnya sudah bilang kalau ibu tidak bisa melahirkan lagi, kalaupun ia resikonya kecil. Namun ibu bersikeras, ia ingin melahirkan anaknya yang notabane adalah adik tiriku.
Persalinan berjalan, aku menunggu diluar dengan gusar, mondar-mandir sepanjang koridor sambil meremas-remas tanganku sendiri.
Dokter keluar ruang persalinan namun aku tak mendengar sedikitpun suara tangisan bayi dari dalam sana. Aku memperhatikan wajahnya, ada kemuraman disana dan tanpa ia bilanngpun aku sudah tau jawabannya.
Kemudian aku masuk kesana, kulihat ibuku dan anaknya yang tertidur tenang. Abadi.
***
Selesai pemakaman ibu, aku kembali ke kost-kostanku yang kecil dan sederhana, mengemasi pakaianku. Aku akan pergi, kota ini terlalu banyak kenangan buruk tentang keluargaku.
Kota lain mungkin akan menjadi kota terbaik nantinya untukku. Namun aku tak yakin aku mampu mempercayai oranglain setelah kematian orang-orang disekitarku.
Kisah fiksi dengan beberapa kisah nyata di dalamnya.
Mereka tak sesungguhnya mengerti apa itu arti perpisahan atau perceraian dan yang mereka mengerti hanyalah ketidakmampuan keduanya untuk menjalani kehidupan. Untuk apa mereka menikah kalau harus berakhir dengan perceraian, bukaknkah pernikahan itu di tuntut untuk saling bersama hingga Tuhan yang memisahkan mereka?!
Perceraian 5 tahun itu membuatku tak mudah untuk memercayai orang-orang yang dekat denganku. Sejak kecilpun aku tak mempunyai teman, tak ada yang mau berteman tepatnya. Entah apa yang salah dengan diriku. Aku tumbuh dengan berbagai hinaan dan cacian orang-orang, membuatku selalu sinis kepada oranglain.
Saat di jalan atau dimanapun aku berada dan ada oranglain melihatku dengan tatapan aneh, aku selalu menatap balik dengan tatapan "apa! Ada yang salah sama gue?!". Sejak 5 tahun yang lalu aku memilih tinggal sendiri di sebuah kost-kostan dekat kampus.
Sebenarnya aku punya kakak. Laki-laki. Tampan dan cerdas. Namun perceraian 5 tahun lalu membuatnya jelek dan bodoh dari hari ke hari.
Ia pergi. Selamanya. Meninggalkan tangis dan luka semakin dalam untukku. 5 tahun yang merubah segalanya. Tawa menjadi duka dan semakin perih rasanya.
2 tahun lalu, ayah menikah lagi dengan seorang perempuan muda beranak 1, memiliki kesenangan sendiri diatas duka anaknya. Baru setahun umur mereka, ayah terkena stroke dan melumpuhkan hampir semua anggota tubuhnya.
Istri baru yang masih muda itu tak sanggu mengurusi ayah, sebulan kemudian mereka bercerai. Aku yang akhirnya mengurusi semua kebutuhan ayah selama ia sakit. Ibu membantu? Tidak, ia malah sibuk mengurusi pernikahannya dengan seorang pengusaha sukses dari Medan.
Akan ada bahagia lagi diatas penderitaan yang panjang ini. Saat pernikahan mereka aku sengaja tidak datang. Untuk apa? Memperlakukan diri sendiri? Sudah cukup bagiku mendengar cacian banyak orang.
Ibu habis-habisan memakiku karena ketidakhadiranku, baginya tidak sopan. Aku menjawab pertanyaannya dengan enteng "untuk apa? Bersenang-senang diatas penderitaan ayah?"
Wajahnya berubah makin garang, tangannya siap menamparku. Wajahku yang masih tegak menatapnya dan seakan menantangnya membuat nyalinya surut untuk menamparku, dengan kesal dia beranjak pergi meninggalkan rumah ayah.
4 bulan berlalu, ayah tak sanggup lagi menahan deritanya. Ia pergi. Menyusul mas Ari yang telah tinggal di surga. Kembali. Luka itu tergores panjang di hati ini.
Ibu masih bahagia dengan pernikahannya, bahkan yang aku dengar dia telah hamil padahal yang aku tau umur ibu bukan umur yang bagus lagi untuk hamil. Aku akhirnya kembali ke kost-kostan kecilku dan kembali memulai kesendirian.
Dari awal aku sudah bilang, menciptakan sebuah perasaan tanpa tau maknanya sama saja buta. Dan itu yang kini terjadi dengan ibuku, suami barunya ternyata memiliki istri dan ibuku habis di teror oleh perempuan gila itu. Akhirnya mereka bercerai dan sang mantan suami meninggalkan ibu dengan perut bunctitnya yang semakin hari semakin besar, tanpa uang tanpa makanan.
Akhirnya aku yang mengurus ibu, mengantarnya kontrol dan membelikan makanan-makanan yang diinginkan si bayi. Dokter sebenarnya sudah bilang kalau ibu tidak bisa melahirkan lagi, kalaupun ia resikonya kecil. Namun ibu bersikeras, ia ingin melahirkan anaknya yang notabane adalah adik tiriku.
Persalinan berjalan, aku menunggu diluar dengan gusar, mondar-mandir sepanjang koridor sambil meremas-remas tanganku sendiri.
Dokter keluar ruang persalinan namun aku tak mendengar sedikitpun suara tangisan bayi dari dalam sana. Aku memperhatikan wajahnya, ada kemuraman disana dan tanpa ia bilanngpun aku sudah tau jawabannya.
Kemudian aku masuk kesana, kulihat ibuku dan anaknya yang tertidur tenang. Abadi.
***
Selesai pemakaman ibu, aku kembali ke kost-kostanku yang kecil dan sederhana, mengemasi pakaianku. Aku akan pergi, kota ini terlalu banyak kenangan buruk tentang keluargaku.
Kota lain mungkin akan menjadi kota terbaik nantinya untukku. Namun aku tak yakin aku mampu mempercayai oranglain setelah kematian orang-orang disekitarku.
Kisah fiksi dengan beberapa kisah nyata di dalamnya.
Selasa, 29 Maret 2011
Pak Basir. Seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab
Namaku Imran, mahasiswa jurnalistik di salah satu Universitas Negeri di Indonesia. Bekerja sebagai wartawan dan penulis lepas sebuah koran daerah. Aku dilahirkan disudut kota Jogjakarta dari sebuah keluarga yang sederhana bahkan bisa di bilang pas-pasan dalam segala hal, Aku mempunya 3 orang adik yang masih sekolah. Ayahku yang seorang pensiunan dan ibuku yang berdagang warung di depan rumah tidak mencukupi kebutuhan keluarga sehingga aku memutuskan untuk bekerja dan menafkahi diri sendiri.
Disinilah aku sekarang, duduk di pinggiran kota Jakarta hanya untuk mencari sebuah berita yang pantas aku berikan untuk atasanku. Bukan berita besar namun berita yang menarik bagi pembaca, lama aku termenung, menatap langit-langit yang mulai keemasan. Hari makin sore namun aku belum dapat 1 beritapun.
Saat sedang termenung dan memikirkan nasibku, aku menatap sekelabatan bayangan di ujung jalan.
Tak lama aku melihat seorang lelaki tua sedang menarik gerobak sampah yang isinya sudah kosong, di wajahnya terlihat wajah lelah dan peluh keringat saat menariknya. Pelan tapi pasti, dengan sisa-sisa tenaganya ia menarik gerobaknya dan melewatiku.
Tidak terlalu jelas namun aku bisa melihatnya, ada senyum ikhlas di wajah bapak itu.
Saat dia mulai jauh entah apa yang membuatku berlari menuju ke arahnya dan memperkenalkan diriku.
***
Namanya Pak Basir, seorang suami dan ayah bagi 5 anaknya. Bekerja sebagai tukang sampah yang penghasilannya tidak bisa dibilang cukup, istrinya seorang pedangang sayuran keliling.
Dulu sekali sebelum menjadi tukang sampah, Pak Basir adalah seorang buruh pabrik yang penghasilannya cukup namun sayang pabrik tempatnya bekerja gulung tikar dan memecat semua pegawainya termasuk Pak Basir.
Hampir beberapa bulan mereka luntang-lantung mencari sesuap nasi, Pak Basir sibuk keluar rumah dan mencari pekerjaan. Namun jaman sekarang mana ada kantor menerima pegawai baru yang cuma lulusan SMA?
Pada masa sulit itu, anak-anak Pak Basir sering sekali menangis kelaparan di dalam kontrakkan. Tetannga yang tidak tega memberi makanan seadanya untuk mereka.
Tak lama, mereka diusir dari kontrakan karena tidak mampu membayar uang sewanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa mereka pergi dan mencari tempat tinggal baru.
Dan disinilah sekarang mereka tinggal, di daerah pemukiman kumuh dengan keadaan rumah yang sangat memprihatinkan.
Dindingnya hanya tersusun dari triplek-triplek bekas dan hanya ada 1 ruangan di dalamnya, sungguh sangat kecil untuk sebuah keluarga yang besar seperti Pak Basir.
Saat malam datang, tak ada yang bisa menghangatkan badan mereka yang terkena hawa dingin tak ada pula lampu yang menerangi mereka.
Kekurangan itulah yang membuat hati ini miris.
Anak Pak Basir yang paling sulung berhenti sekolah dan bekerja di pasar sebagai tukang semir sepatu untuk menambah biaya hidup. Pak Basir tidak tega melihat anaknya bekerja namun kondisinya sekarang tidak bisa dipaksakan.
Sempat Pak Basir senang dengan adanya program sekolah gratis bagi keluarga yang kurang mampu namun ternyata pengurusannya susah dan seakan sengaja di buat susah.
Dan akhirnya Pak Basir menyerah dan pasrah dengan jalan yang telah ditakdirkan.
Aku merekam semua cerita Pak Basir melalui alat perekamku sambil menahan haru yang tercipta di rumahnya yang mulai gelap.
Setelah itu aku pamit untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Aku pulang dengan rasa berkecamuk. Antara sedih, marah, dan merasa tidak adil. Ternyata bukan cuma aku yang merasa kekurangan, masih banyak oranglain disana yang jauh lebih layak mendapatkan uluran tangan pemerintah.
Sesampainya dirumah, aku taruh kamera dan tasku di atas kasur. Aku nyalakan komputerku dan mulai menulis apa yang di aku dapatkan hari ini.
***
Editor menyipitkan matanya saat membaca artikel yang aku buat semalam suntuk. Ia sangat berat untuk menerbitkannya di koran, terlalu menyindir pemerintah katanya. Aku memaksanya untuk menerbitkannya, apa salahnya menerbitkan sebuah artikel yang menyindir. Bukannya itu tugas wartawan? Pikirku.
Akhirnya setelah paksaan dan perbincangan yang cukup alot, dia mau menerbitkan artikelku asal aku mau mempertanggung jawabkannya.
Artikel itu dimuat di tempat biasa, tempat kecil dengan judul "Taukah Pemerintah tentang kehidupan Rakyatnya?"
Setelah koran tersebut terbit, banyak email yang masuk ke redaksi menyampaikan kekaguman akan tulisanku. Mereka merasa terwakili dengan cerita Pak Basir yang aku kaitkan dengan isi artikelnya. Namun ada juga yang sangat keberatan dengan isinya, mereka bahkan menuduh bahwa tokoh Pak Basir itu hanya fiktif dan karanganku saja.
Namun aku cuek saja, selama mereka masih menanggapinya dalam hal wajar.
Setelah kejadian itu aku sering menemui Pak Basir dan keluarganya, hanya untuk sekedar bercerita dan berbagi pengalaman hidup.
Bagiku, keluarga Pak Basir adalah keluarga kedua dalam hidupku setelah keluargaku sendiri.
Dibuat saat mengerjakan soal TO Bhs. Inggris di Sekolah tercinta SMK Jayawisata 2 Jaktim (masih tetap menuntut keadilan Pemerintah)
Disinilah aku sekarang, duduk di pinggiran kota Jakarta hanya untuk mencari sebuah berita yang pantas aku berikan untuk atasanku. Bukan berita besar namun berita yang menarik bagi pembaca, lama aku termenung, menatap langit-langit yang mulai keemasan. Hari makin sore namun aku belum dapat 1 beritapun.
Saat sedang termenung dan memikirkan nasibku, aku menatap sekelabatan bayangan di ujung jalan.
Tak lama aku melihat seorang lelaki tua sedang menarik gerobak sampah yang isinya sudah kosong, di wajahnya terlihat wajah lelah dan peluh keringat saat menariknya. Pelan tapi pasti, dengan sisa-sisa tenaganya ia menarik gerobaknya dan melewatiku.
Tidak terlalu jelas namun aku bisa melihatnya, ada senyum ikhlas di wajah bapak itu.
Saat dia mulai jauh entah apa yang membuatku berlari menuju ke arahnya dan memperkenalkan diriku.
***
Namanya Pak Basir, seorang suami dan ayah bagi 5 anaknya. Bekerja sebagai tukang sampah yang penghasilannya tidak bisa dibilang cukup, istrinya seorang pedangang sayuran keliling.
Dulu sekali sebelum menjadi tukang sampah, Pak Basir adalah seorang buruh pabrik yang penghasilannya cukup namun sayang pabrik tempatnya bekerja gulung tikar dan memecat semua pegawainya termasuk Pak Basir.
Hampir beberapa bulan mereka luntang-lantung mencari sesuap nasi, Pak Basir sibuk keluar rumah dan mencari pekerjaan. Namun jaman sekarang mana ada kantor menerima pegawai baru yang cuma lulusan SMA?
Pada masa sulit itu, anak-anak Pak Basir sering sekali menangis kelaparan di dalam kontrakkan. Tetannga yang tidak tega memberi makanan seadanya untuk mereka.
Tak lama, mereka diusir dari kontrakan karena tidak mampu membayar uang sewanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa mereka pergi dan mencari tempat tinggal baru.
Dan disinilah sekarang mereka tinggal, di daerah pemukiman kumuh dengan keadaan rumah yang sangat memprihatinkan.
Dindingnya hanya tersusun dari triplek-triplek bekas dan hanya ada 1 ruangan di dalamnya, sungguh sangat kecil untuk sebuah keluarga yang besar seperti Pak Basir.
Saat malam datang, tak ada yang bisa menghangatkan badan mereka yang terkena hawa dingin tak ada pula lampu yang menerangi mereka.
Kekurangan itulah yang membuat hati ini miris.
Anak Pak Basir yang paling sulung berhenti sekolah dan bekerja di pasar sebagai tukang semir sepatu untuk menambah biaya hidup. Pak Basir tidak tega melihat anaknya bekerja namun kondisinya sekarang tidak bisa dipaksakan.
Sempat Pak Basir senang dengan adanya program sekolah gratis bagi keluarga yang kurang mampu namun ternyata pengurusannya susah dan seakan sengaja di buat susah.
Dan akhirnya Pak Basir menyerah dan pasrah dengan jalan yang telah ditakdirkan.
Aku merekam semua cerita Pak Basir melalui alat perekamku sambil menahan haru yang tercipta di rumahnya yang mulai gelap.
Setelah itu aku pamit untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Aku pulang dengan rasa berkecamuk. Antara sedih, marah, dan merasa tidak adil. Ternyata bukan cuma aku yang merasa kekurangan, masih banyak oranglain disana yang jauh lebih layak mendapatkan uluran tangan pemerintah.
Sesampainya dirumah, aku taruh kamera dan tasku di atas kasur. Aku nyalakan komputerku dan mulai menulis apa yang di aku dapatkan hari ini.
***
Editor menyipitkan matanya saat membaca artikel yang aku buat semalam suntuk. Ia sangat berat untuk menerbitkannya di koran, terlalu menyindir pemerintah katanya. Aku memaksanya untuk menerbitkannya, apa salahnya menerbitkan sebuah artikel yang menyindir. Bukannya itu tugas wartawan? Pikirku.
Akhirnya setelah paksaan dan perbincangan yang cukup alot, dia mau menerbitkan artikelku asal aku mau mempertanggung jawabkannya.
Artikel itu dimuat di tempat biasa, tempat kecil dengan judul "Taukah Pemerintah tentang kehidupan Rakyatnya?"
Setelah koran tersebut terbit, banyak email yang masuk ke redaksi menyampaikan kekaguman akan tulisanku. Mereka merasa terwakili dengan cerita Pak Basir yang aku kaitkan dengan isi artikelnya. Namun ada juga yang sangat keberatan dengan isinya, mereka bahkan menuduh bahwa tokoh Pak Basir itu hanya fiktif dan karanganku saja.
Namun aku cuek saja, selama mereka masih menanggapinya dalam hal wajar.
Setelah kejadian itu aku sering menemui Pak Basir dan keluarganya, hanya untuk sekedar bercerita dan berbagi pengalaman hidup.
Bagiku, keluarga Pak Basir adalah keluarga kedua dalam hidupku setelah keluargaku sendiri.
Dibuat saat mengerjakan soal TO Bhs. Inggris di Sekolah tercinta SMK Jayawisata 2 Jaktim (masih tetap menuntut keadilan Pemerintah)
Minggu, 27 Maret 2011
Surat Untuk Presiden
Namaku Amir, bocah berumur 12 tahun yang hidup dengan ibuku di suatu pemukiman miskin sudut Ibukota. Ayahku meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan, aku mempunyai seorang adik perempuan berumur 6 tahun.
Aku yang duduk di bangku kelas 6 SD sering membantu ibuku bekerja, beliau bekerja sebagai tukang cuci rumah-rumah warga. Tidak tega dengannya aku ikutan mencari uang setelah pulang sekolah, menjadi seorang buruh angkut di pasar dekat rumahku.
Kadang beliau marah melihatku bekerja namun ini pilihan hidup kami, kalau saja aku dilahirkan sebagai anak seorang kepala pemerintahan aku tidak akan begini. Aku juga memikirkan keadaan adikku yang harus makan-makanan yang bergizi, aku tidak tega melihatnya hanya makan tahu-tempe setiap hari.
Tahun ini aku akan menamatkan sekolahku dan berniat melanjutkannya namun kendala biaya menjadi penyebab utamanya, ibuku jadi lebih sering bekerja untuk menambah biaya masuk sekolahku nanti. Aku juga tidak berpangku tangan, sebelum menjadi buruh angkut aku bekerja sebagai pengantar koran sore ke rumah-rumah.
Sebenarnya aku tidak ingin melanjutkan sekolahku, kasihan ibuku. Namun beliau memaksa, katanya aku harus menjadi orang pintar supaya bisa menjadi kaya.
Ditiap sembahyangku aku selalu berdoa kepada Tuhan agar meringankan beban kami, meringankan beban ibuku. Namun Tuhan belum mengabulkan doaku. Ibu selalu menangis di tiap sembahyangnya, aku makin tidak tega.
Sore ini aku menulis surat, surat untuk orang penting. Orang nomor 1 di Indonesia dan aku harap dia mau membacanya.
Aku tulis rapi suratku agar dia mau menerimanya, aku selipkan kalimat-kalimat indah yang aku pelajari di sekolah.
Aku bercerita tentang kehidupanku, kehidupan rakyat miskin yang susah untuk mencari sesuap nasi. Mungkin apa yang aku tulis mewakili perasaan semua masyarakat kelas bawah.
Aku bertanya, inikah janji presiden kala masih menjadi calon? Harusnya janji itu ditepati, janji mensejahterakan masyarakatnya.
Jujur, kami sebagai kalangan miskin merasa diasingkan dan merasa tidak di perhatikan padahal pada saat pemilihan suara kami juga di pakai.
Pemerintah terlalu sibuk dengan urusan kenaikan gaji dan pembangunan gedung baru. Sedangkan untuk membuat rakyat sejahtera? Cuma janji. Pemerintah bagiku bodoh, mereka pikir kita makan dengan janji mereka?
Sejenak ku pandangi tulisanku kemudian aku melanjutkannya dengan beberapa kalimat.
Selesai sudah surat itu, aku melipatnya dan memasukkannya ke amplop. Kuberikan nama dan tujuan di amplop tersebut. Aku berjalan ke kantor Pos dan menyerahkannya kepada petugas.
Dia sempat bingung saat membaca nama di amplopnya "untuk Presiden dari seorang anak kecil dari golongan bawah yang meminta keadilan" kataku padanya kemudian aku berjalan keluar kantor Pos yang sendirian di depan mejanya sambil memandangi suratku.
Untuk Pemerintah, dari seorang remaja berumur 18 tahun yang meminta keadilan
Aku yang duduk di bangku kelas 6 SD sering membantu ibuku bekerja, beliau bekerja sebagai tukang cuci rumah-rumah warga. Tidak tega dengannya aku ikutan mencari uang setelah pulang sekolah, menjadi seorang buruh angkut di pasar dekat rumahku.
Kadang beliau marah melihatku bekerja namun ini pilihan hidup kami, kalau saja aku dilahirkan sebagai anak seorang kepala pemerintahan aku tidak akan begini. Aku juga memikirkan keadaan adikku yang harus makan-makanan yang bergizi, aku tidak tega melihatnya hanya makan tahu-tempe setiap hari.
Tahun ini aku akan menamatkan sekolahku dan berniat melanjutkannya namun kendala biaya menjadi penyebab utamanya, ibuku jadi lebih sering bekerja untuk menambah biaya masuk sekolahku nanti. Aku juga tidak berpangku tangan, sebelum menjadi buruh angkut aku bekerja sebagai pengantar koran sore ke rumah-rumah.
Sebenarnya aku tidak ingin melanjutkan sekolahku, kasihan ibuku. Namun beliau memaksa, katanya aku harus menjadi orang pintar supaya bisa menjadi kaya.
Ditiap sembahyangku aku selalu berdoa kepada Tuhan agar meringankan beban kami, meringankan beban ibuku. Namun Tuhan belum mengabulkan doaku. Ibu selalu menangis di tiap sembahyangnya, aku makin tidak tega.
Sore ini aku menulis surat, surat untuk orang penting. Orang nomor 1 di Indonesia dan aku harap dia mau membacanya.
Aku tulis rapi suratku agar dia mau menerimanya, aku selipkan kalimat-kalimat indah yang aku pelajari di sekolah.
Aku bercerita tentang kehidupanku, kehidupan rakyat miskin yang susah untuk mencari sesuap nasi. Mungkin apa yang aku tulis mewakili perasaan semua masyarakat kelas bawah.
Aku bertanya, inikah janji presiden kala masih menjadi calon? Harusnya janji itu ditepati, janji mensejahterakan masyarakatnya.
Jujur, kami sebagai kalangan miskin merasa diasingkan dan merasa tidak di perhatikan padahal pada saat pemilihan suara kami juga di pakai.
Pemerintah terlalu sibuk dengan urusan kenaikan gaji dan pembangunan gedung baru. Sedangkan untuk membuat rakyat sejahtera? Cuma janji. Pemerintah bagiku bodoh, mereka pikir kita makan dengan janji mereka?
Sejenak ku pandangi tulisanku kemudian aku melanjutkannya dengan beberapa kalimat.
Selesai sudah surat itu, aku melipatnya dan memasukkannya ke amplop. Kuberikan nama dan tujuan di amplop tersebut. Aku berjalan ke kantor Pos dan menyerahkannya kepada petugas.
Dia sempat bingung saat membaca nama di amplopnya "untuk Presiden dari seorang anak kecil dari golongan bawah yang meminta keadilan" kataku padanya kemudian aku berjalan keluar kantor Pos yang sendirian di depan mejanya sambil memandangi suratku.
Untuk Pemerintah, dari seorang remaja berumur 18 tahun yang meminta keadilan
Kamis, 24 Maret 2011
We Are SHINING STAR
Udah lama ga posting, yup ! banyak cerita di hidup gue yang ga bisa gue bagi buat banyak orang. Gue juga ngerasa gue sedikit individualistis, gue ngerasa gue jadi tipe orang yang bodo amat sama kehidupan oranglain. Mungkin pengaruh lingkungan juga sih :D
Bukan itu sih yang mau gue permasalahin disini, bukan tentang cinta atau pengkhianatan dari sahabat hahaha *curcol*
Gue cuma mau berbagi cerita, dimana gue menikmati pertemanan gue dengan beberapa orang temen gue di sekolah. Bukan dari jurusan yang sama, itulah yang membedakan kami. Bagi gue perbedaan itu menyatukan segalanya dan gue harap pertemanan gue sama mereka ga berakhir di PROM NITE bulan Juli nanti.
Ya, kita menyatu karena KOREA. Hal sepele yang bikin gue akrab sama mereka, berawal dari 1 orang lalu merembet ke yang lainnya.
Jujur awalnya canggung, gue bingung gimana harus nyesuaiin keadaan gue sama mereka *takut ga nyambung bo omongannya*
Ternyata eh ternyata mereka lebih nyablak dari gue hahaha tapi gue seneng, seenggaknya mereka nganggep gue ada, nganggep gue temen dan nanyain keadaan gue *elaah pengen bet ditanyain* hahaha
Gue cuma mau bilang, makasih ya temen-temen sehati gue :)
Vini Vionola, Kyunelza Scarlet, Nate 'aciie'bald, Zhyta 'Hitomi Arishima', Nika Efriandini, Megaa Rosyana Dewii dan Dhebii Septiianii
Bukan itu sih yang mau gue permasalahin disini, bukan tentang cinta atau pengkhianatan dari sahabat hahaha *curcol*
Gue cuma mau berbagi cerita, dimana gue menikmati pertemanan gue dengan beberapa orang temen gue di sekolah. Bukan dari jurusan yang sama, itulah yang membedakan kami. Bagi gue perbedaan itu menyatukan segalanya dan gue harap pertemanan gue sama mereka ga berakhir di PROM NITE bulan Juli nanti.
Ya, kita menyatu karena KOREA. Hal sepele yang bikin gue akrab sama mereka, berawal dari 1 orang lalu merembet ke yang lainnya.
Jujur awalnya canggung, gue bingung gimana harus nyesuaiin keadaan gue sama mereka *takut ga nyambung bo omongannya*
Ternyata eh ternyata mereka lebih nyablak dari gue hahaha tapi gue seneng, seenggaknya mereka nganggep gue ada, nganggep gue temen dan nanyain keadaan gue *elaah pengen bet ditanyain* hahaha
Gue cuma mau bilang, makasih ya temen-temen sehati gue :)
Vini Vionola, Kyunelza Scarlet, Nate 'aciie'bald, Zhyta 'Hitomi Arishima', Nika Efriandini, Megaa Rosyana Dewii dan Dhebii Septiianii
Langganan:
Postingan (Atom)
Senin, 16 Mei 2011
Kesepian? Butuh? Atau di Buang?
Pernah menangis? Aku yakin siapapun kalian, kalian pasti pernah menangis.
Akhir-akhir ini aku menangis, entah kenapa. Sama seperti malam sebelumnya, hujan turun dengan lebatnya.
Hujan yang dulu aku senangi tak mampu lagi menjadi sebuah hal yang membuatku tersenyum.
Aku menangis.
Ya, ditengah air lebat yang turun membasahi segala hal yang mampu ia jamah.
Entah apa yang ku tangisi, entah apa yang harus aku galaukan.
Aku tau, manusia itu ditakdirkan sendiri namun aku membenci saat dimana aku benar-benar sendiri tanpa seorang teman ataupun kekasih.
Akhir-akhir ini aku menangis, entah kenapa. Sama seperti malam sebelumnya, hujan turun dengan lebatnya.
Hujan yang dulu aku senangi tak mampu lagi menjadi sebuah hal yang membuatku tersenyum.
Aku menangis.
Ya, ditengah air lebat yang turun membasahi segala hal yang mampu ia jamah.
Entah apa yang ku tangisi, entah apa yang harus aku galaukan.
Aku tau, manusia itu ditakdirkan sendiri namun aku membenci saat dimana aku benar-benar sendiri tanpa seorang teman ataupun kekasih.
Rabu, 11 Mei 2011
Untitled bukan berarti tanpa judul
Mencintai mantan
Aku ga punya alasan mengapa aku mencintai kamu, jadi jangan desak aku dengan pertanyaan. Mengapa kamu masih mencintai aku?
Doa untuk yang terkasih
Tuhan, berikan dia senyuman besok hari. Jujur, cuma itu yg bisa meyakinkan aku betapa bahagianya dia memiliki Tuhan (:
Hubungan Cinta tanpa sebuah status
Aku butuh kepastian tentang hubungan kita, kamu pikir enak apa digantung kaya jemuran begini !
Manusia yang berlapang dada
Aku mencintai org yang membenciku, kenapa? Karena secara tidak sengaja mereka menyayangiku
Menunggu dan pergi
Sampai saat ini aku masih mencintai kamu yang acuh dan jika suatu saat nanti kamu sadar kamu harus tau, cinta itu telah pergi
Egois dan Cinta
Egois itu saat aku menginginkan kamu hanya milik aku tanpa kecuali
Malaikat
Kamu kaya malaikat, datang saat aku ga kuat bertahan hidup
Penyesalan dan keyakinan
Saat kamu pilih dia aku akan rela tp suatu hari kamu pasti akan bilang "aku nyesel pilih dia"
Jomblo
Jomblo terlalu lama itu bukan krn kita ga laku, tp krna kita terlalu pemilih
Menanti
Tiap hari menanti nama kamu nangkring di inbox aku (:
Cinta sebuah pengorbanan
Cinta itu dibuktiin dari seberapa besar pengorbanan dia utk kamu, bukan seberapa sering dia mengucapkan kata cinta utk kamu
Cinta bukan materi
Aku ga butuh harta dari kamu, aku cuma mau hati kamu
Cinta dan Sayang
Saat kamu mampu melepas kekasihmu, berarti kamu blm mencintainya tp hanya sekedar menyayanginya
Pujangga
Aku suka merangkai kata, dimana kata itu akan menjadi kalimat indah untukmu
Garpu dan Sendok
Perempuan dan laki-laki itu bertolak belakang, tp keduanya saling membutuhkan
Kecupan kening
Aku suka bagian dimana kamu mengecup keningku dengan lembut krn aku tau kmu menyayangiku tulus
Gagal gombal
Seandainya aku bisa ngasih kamu bintang yg ada dilangit, akan aku kasih. Sayangnya bintangnya jauh :D maaf ya
Spongebob dan Patrick
Aku mau punya sahabat kaya patrick, biarpun bodoh tp dia selalu berterus terang tentang sahabatnya :)
Apa adanya
Jujur, suara kamu emang jelek tp aku tetep suka kalo kamu lg nyanyi lagu cinta buat aku :)
Tidak sempurna dan bukan Tuhan
Manusia itu punya kelebihan dan kekurangan, seburuk apapun kamu pasti ada 1 hal yg bisa kamu banggakan
Rindu yang salah
Pernah satu kali, aku merindukan seseorang yang ga seharusnya aku rindukan
Cemburu
Aku benci dimana ada bagian aku harus mengalah dan melihatmu bercanda mesra dengan yg lain
Harapan
Pengen deh ada dipikiran kamu, 5 menit aja (:
Cinta tanpa harap
Aku menyayangi kamu lebih dr apa yang kamu tau, bhkan aku ga berharap kamu membalasnya
Adil
Pengen tukeran tempat, supaya kamu tau gimana jadi aku dan aku jadi kamu
Selasa, 12 April 2011
Kesepian itu indah
Pernah ngerasa sendiri?
Kalau ada kata diatas kata kesepian mungkin kata itu yang akan kupakai untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Memang banyak orang disekitarku, mengelilingiku dan tanpa kusadari memberi warna dalam kehidupanku.
Namun, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam aku merasakan kesepian yang oranglain tidak mengetahuinya.
Kesepian bagiku seperti koin yang memiliki 2 sisi. Kadang di butuhkan kadang pula ingin di enyahkan.
Namun bagiku kesepian itu indah, mampu menciptakan sebuah sisi lain dari seorang anak manusia.
Sebuah sisi yang bisa dilihat hanya saat kesepian itu datang
Bagi yang merasa kesepian ditulis dengan penuh rasa ketidakpastian
Kalau ada kata diatas kata kesepian mungkin kata itu yang akan kupakai untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini. Memang banyak orang disekitarku, mengelilingiku dan tanpa kusadari memberi warna dalam kehidupanku.
Namun, jauh di dalam lubuk hati yang paling dalam aku merasakan kesepian yang oranglain tidak mengetahuinya.
Kesepian bagiku seperti koin yang memiliki 2 sisi. Kadang di butuhkan kadang pula ingin di enyahkan.
Namun bagiku kesepian itu indah, mampu menciptakan sebuah sisi lain dari seorang anak manusia.
Sebuah sisi yang bisa dilihat hanya saat kesepian itu datang
Bagi yang merasa kesepian ditulis dengan penuh rasa ketidakpastian
Senin, 11 April 2011
Tak tau makna = Buta
Menciptakan sebuah rasa tanpa tau maknanya sama saja melihat dalam ruangan tanpa lampu. Gelap. Tak tau harus kemana. Bukan keinginanku untuk besar dari keluarga broken home, semua orang mencibir, menjauhi dan memusuhi seakan perceraian adalah sebuah aib.
Mereka tak sesungguhnya mengerti apa itu arti perpisahan atau perceraian dan yang mereka mengerti hanyalah ketidakmampuan keduanya untuk menjalani kehidupan. Untuk apa mereka menikah kalau harus berakhir dengan perceraian, bukaknkah pernikahan itu di tuntut untuk saling bersama hingga Tuhan yang memisahkan mereka?!
Perceraian 5 tahun itu membuatku tak mudah untuk memercayai orang-orang yang dekat denganku. Sejak kecilpun aku tak mempunyai teman, tak ada yang mau berteman tepatnya. Entah apa yang salah dengan diriku. Aku tumbuh dengan berbagai hinaan dan cacian orang-orang, membuatku selalu sinis kepada oranglain.
Saat di jalan atau dimanapun aku berada dan ada oranglain melihatku dengan tatapan aneh, aku selalu menatap balik dengan tatapan "apa! Ada yang salah sama gue?!". Sejak 5 tahun yang lalu aku memilih tinggal sendiri di sebuah kost-kostan dekat kampus.
Sebenarnya aku punya kakak. Laki-laki. Tampan dan cerdas. Namun perceraian 5 tahun lalu membuatnya jelek dan bodoh dari hari ke hari.
Ia pergi. Selamanya. Meninggalkan tangis dan luka semakin dalam untukku. 5 tahun yang merubah segalanya. Tawa menjadi duka dan semakin perih rasanya.
2 tahun lalu, ayah menikah lagi dengan seorang perempuan muda beranak 1, memiliki kesenangan sendiri diatas duka anaknya. Baru setahun umur mereka, ayah terkena stroke dan melumpuhkan hampir semua anggota tubuhnya.
Istri baru yang masih muda itu tak sanggu mengurusi ayah, sebulan kemudian mereka bercerai. Aku yang akhirnya mengurusi semua kebutuhan ayah selama ia sakit. Ibu membantu? Tidak, ia malah sibuk mengurusi pernikahannya dengan seorang pengusaha sukses dari Medan.
Akan ada bahagia lagi diatas penderitaan yang panjang ini. Saat pernikahan mereka aku sengaja tidak datang. Untuk apa? Memperlakukan diri sendiri? Sudah cukup bagiku mendengar cacian banyak orang.
Ibu habis-habisan memakiku karena ketidakhadiranku, baginya tidak sopan. Aku menjawab pertanyaannya dengan enteng "untuk apa? Bersenang-senang diatas penderitaan ayah?"
Wajahnya berubah makin garang, tangannya siap menamparku. Wajahku yang masih tegak menatapnya dan seakan menantangnya membuat nyalinya surut untuk menamparku, dengan kesal dia beranjak pergi meninggalkan rumah ayah.
4 bulan berlalu, ayah tak sanggup lagi menahan deritanya. Ia pergi. Menyusul mas Ari yang telah tinggal di surga. Kembali. Luka itu tergores panjang di hati ini.
Ibu masih bahagia dengan pernikahannya, bahkan yang aku dengar dia telah hamil padahal yang aku tau umur ibu bukan umur yang bagus lagi untuk hamil. Aku akhirnya kembali ke kost-kostan kecilku dan kembali memulai kesendirian.
Dari awal aku sudah bilang, menciptakan sebuah perasaan tanpa tau maknanya sama saja buta. Dan itu yang kini terjadi dengan ibuku, suami barunya ternyata memiliki istri dan ibuku habis di teror oleh perempuan gila itu. Akhirnya mereka bercerai dan sang mantan suami meninggalkan ibu dengan perut bunctitnya yang semakin hari semakin besar, tanpa uang tanpa makanan.
Akhirnya aku yang mengurus ibu, mengantarnya kontrol dan membelikan makanan-makanan yang diinginkan si bayi. Dokter sebenarnya sudah bilang kalau ibu tidak bisa melahirkan lagi, kalaupun ia resikonya kecil. Namun ibu bersikeras, ia ingin melahirkan anaknya yang notabane adalah adik tiriku.
Persalinan berjalan, aku menunggu diluar dengan gusar, mondar-mandir sepanjang koridor sambil meremas-remas tanganku sendiri.
Dokter keluar ruang persalinan namun aku tak mendengar sedikitpun suara tangisan bayi dari dalam sana. Aku memperhatikan wajahnya, ada kemuraman disana dan tanpa ia bilanngpun aku sudah tau jawabannya.
Kemudian aku masuk kesana, kulihat ibuku dan anaknya yang tertidur tenang. Abadi.
***
Selesai pemakaman ibu, aku kembali ke kost-kostanku yang kecil dan sederhana, mengemasi pakaianku. Aku akan pergi, kota ini terlalu banyak kenangan buruk tentang keluargaku.
Kota lain mungkin akan menjadi kota terbaik nantinya untukku. Namun aku tak yakin aku mampu mempercayai oranglain setelah kematian orang-orang disekitarku.
Kisah fiksi dengan beberapa kisah nyata di dalamnya.
Mereka tak sesungguhnya mengerti apa itu arti perpisahan atau perceraian dan yang mereka mengerti hanyalah ketidakmampuan keduanya untuk menjalani kehidupan. Untuk apa mereka menikah kalau harus berakhir dengan perceraian, bukaknkah pernikahan itu di tuntut untuk saling bersama hingga Tuhan yang memisahkan mereka?!
Perceraian 5 tahun itu membuatku tak mudah untuk memercayai orang-orang yang dekat denganku. Sejak kecilpun aku tak mempunyai teman, tak ada yang mau berteman tepatnya. Entah apa yang salah dengan diriku. Aku tumbuh dengan berbagai hinaan dan cacian orang-orang, membuatku selalu sinis kepada oranglain.
Saat di jalan atau dimanapun aku berada dan ada oranglain melihatku dengan tatapan aneh, aku selalu menatap balik dengan tatapan "apa! Ada yang salah sama gue?!". Sejak 5 tahun yang lalu aku memilih tinggal sendiri di sebuah kost-kostan dekat kampus.
Sebenarnya aku punya kakak. Laki-laki. Tampan dan cerdas. Namun perceraian 5 tahun lalu membuatnya jelek dan bodoh dari hari ke hari.
Ia pergi. Selamanya. Meninggalkan tangis dan luka semakin dalam untukku. 5 tahun yang merubah segalanya. Tawa menjadi duka dan semakin perih rasanya.
2 tahun lalu, ayah menikah lagi dengan seorang perempuan muda beranak 1, memiliki kesenangan sendiri diatas duka anaknya. Baru setahun umur mereka, ayah terkena stroke dan melumpuhkan hampir semua anggota tubuhnya.
Istri baru yang masih muda itu tak sanggu mengurusi ayah, sebulan kemudian mereka bercerai. Aku yang akhirnya mengurusi semua kebutuhan ayah selama ia sakit. Ibu membantu? Tidak, ia malah sibuk mengurusi pernikahannya dengan seorang pengusaha sukses dari Medan.
Akan ada bahagia lagi diatas penderitaan yang panjang ini. Saat pernikahan mereka aku sengaja tidak datang. Untuk apa? Memperlakukan diri sendiri? Sudah cukup bagiku mendengar cacian banyak orang.
Ibu habis-habisan memakiku karena ketidakhadiranku, baginya tidak sopan. Aku menjawab pertanyaannya dengan enteng "untuk apa? Bersenang-senang diatas penderitaan ayah?"
Wajahnya berubah makin garang, tangannya siap menamparku. Wajahku yang masih tegak menatapnya dan seakan menantangnya membuat nyalinya surut untuk menamparku, dengan kesal dia beranjak pergi meninggalkan rumah ayah.
4 bulan berlalu, ayah tak sanggup lagi menahan deritanya. Ia pergi. Menyusul mas Ari yang telah tinggal di surga. Kembali. Luka itu tergores panjang di hati ini.
Ibu masih bahagia dengan pernikahannya, bahkan yang aku dengar dia telah hamil padahal yang aku tau umur ibu bukan umur yang bagus lagi untuk hamil. Aku akhirnya kembali ke kost-kostan kecilku dan kembali memulai kesendirian.
Dari awal aku sudah bilang, menciptakan sebuah perasaan tanpa tau maknanya sama saja buta. Dan itu yang kini terjadi dengan ibuku, suami barunya ternyata memiliki istri dan ibuku habis di teror oleh perempuan gila itu. Akhirnya mereka bercerai dan sang mantan suami meninggalkan ibu dengan perut bunctitnya yang semakin hari semakin besar, tanpa uang tanpa makanan.
Akhirnya aku yang mengurus ibu, mengantarnya kontrol dan membelikan makanan-makanan yang diinginkan si bayi. Dokter sebenarnya sudah bilang kalau ibu tidak bisa melahirkan lagi, kalaupun ia resikonya kecil. Namun ibu bersikeras, ia ingin melahirkan anaknya yang notabane adalah adik tiriku.
Persalinan berjalan, aku menunggu diluar dengan gusar, mondar-mandir sepanjang koridor sambil meremas-remas tanganku sendiri.
Dokter keluar ruang persalinan namun aku tak mendengar sedikitpun suara tangisan bayi dari dalam sana. Aku memperhatikan wajahnya, ada kemuraman disana dan tanpa ia bilanngpun aku sudah tau jawabannya.
Kemudian aku masuk kesana, kulihat ibuku dan anaknya yang tertidur tenang. Abadi.
***
Selesai pemakaman ibu, aku kembali ke kost-kostanku yang kecil dan sederhana, mengemasi pakaianku. Aku akan pergi, kota ini terlalu banyak kenangan buruk tentang keluargaku.
Kota lain mungkin akan menjadi kota terbaik nantinya untukku. Namun aku tak yakin aku mampu mempercayai oranglain setelah kematian orang-orang disekitarku.
Kisah fiksi dengan beberapa kisah nyata di dalamnya.
Selasa, 29 Maret 2011
Pak Basir. Seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab
Namaku Imran, mahasiswa jurnalistik di salah satu Universitas Negeri di Indonesia. Bekerja sebagai wartawan dan penulis lepas sebuah koran daerah. Aku dilahirkan disudut kota Jogjakarta dari sebuah keluarga yang sederhana bahkan bisa di bilang pas-pasan dalam segala hal, Aku mempunya 3 orang adik yang masih sekolah. Ayahku yang seorang pensiunan dan ibuku yang berdagang warung di depan rumah tidak mencukupi kebutuhan keluarga sehingga aku memutuskan untuk bekerja dan menafkahi diri sendiri.
Disinilah aku sekarang, duduk di pinggiran kota Jakarta hanya untuk mencari sebuah berita yang pantas aku berikan untuk atasanku. Bukan berita besar namun berita yang menarik bagi pembaca, lama aku termenung, menatap langit-langit yang mulai keemasan. Hari makin sore namun aku belum dapat 1 beritapun.
Saat sedang termenung dan memikirkan nasibku, aku menatap sekelabatan bayangan di ujung jalan.
Tak lama aku melihat seorang lelaki tua sedang menarik gerobak sampah yang isinya sudah kosong, di wajahnya terlihat wajah lelah dan peluh keringat saat menariknya. Pelan tapi pasti, dengan sisa-sisa tenaganya ia menarik gerobaknya dan melewatiku.
Tidak terlalu jelas namun aku bisa melihatnya, ada senyum ikhlas di wajah bapak itu.
Saat dia mulai jauh entah apa yang membuatku berlari menuju ke arahnya dan memperkenalkan diriku.
***
Namanya Pak Basir, seorang suami dan ayah bagi 5 anaknya. Bekerja sebagai tukang sampah yang penghasilannya tidak bisa dibilang cukup, istrinya seorang pedangang sayuran keliling.
Dulu sekali sebelum menjadi tukang sampah, Pak Basir adalah seorang buruh pabrik yang penghasilannya cukup namun sayang pabrik tempatnya bekerja gulung tikar dan memecat semua pegawainya termasuk Pak Basir.
Hampir beberapa bulan mereka luntang-lantung mencari sesuap nasi, Pak Basir sibuk keluar rumah dan mencari pekerjaan. Namun jaman sekarang mana ada kantor menerima pegawai baru yang cuma lulusan SMA?
Pada masa sulit itu, anak-anak Pak Basir sering sekali menangis kelaparan di dalam kontrakkan. Tetannga yang tidak tega memberi makanan seadanya untuk mereka.
Tak lama, mereka diusir dari kontrakan karena tidak mampu membayar uang sewanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa mereka pergi dan mencari tempat tinggal baru.
Dan disinilah sekarang mereka tinggal, di daerah pemukiman kumuh dengan keadaan rumah yang sangat memprihatinkan.
Dindingnya hanya tersusun dari triplek-triplek bekas dan hanya ada 1 ruangan di dalamnya, sungguh sangat kecil untuk sebuah keluarga yang besar seperti Pak Basir.
Saat malam datang, tak ada yang bisa menghangatkan badan mereka yang terkena hawa dingin tak ada pula lampu yang menerangi mereka.
Kekurangan itulah yang membuat hati ini miris.
Anak Pak Basir yang paling sulung berhenti sekolah dan bekerja di pasar sebagai tukang semir sepatu untuk menambah biaya hidup. Pak Basir tidak tega melihat anaknya bekerja namun kondisinya sekarang tidak bisa dipaksakan.
Sempat Pak Basir senang dengan adanya program sekolah gratis bagi keluarga yang kurang mampu namun ternyata pengurusannya susah dan seakan sengaja di buat susah.
Dan akhirnya Pak Basir menyerah dan pasrah dengan jalan yang telah ditakdirkan.
Aku merekam semua cerita Pak Basir melalui alat perekamku sambil menahan haru yang tercipta di rumahnya yang mulai gelap.
Setelah itu aku pamit untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Aku pulang dengan rasa berkecamuk. Antara sedih, marah, dan merasa tidak adil. Ternyata bukan cuma aku yang merasa kekurangan, masih banyak oranglain disana yang jauh lebih layak mendapatkan uluran tangan pemerintah.
Sesampainya dirumah, aku taruh kamera dan tasku di atas kasur. Aku nyalakan komputerku dan mulai menulis apa yang di aku dapatkan hari ini.
***
Editor menyipitkan matanya saat membaca artikel yang aku buat semalam suntuk. Ia sangat berat untuk menerbitkannya di koran, terlalu menyindir pemerintah katanya. Aku memaksanya untuk menerbitkannya, apa salahnya menerbitkan sebuah artikel yang menyindir. Bukannya itu tugas wartawan? Pikirku.
Akhirnya setelah paksaan dan perbincangan yang cukup alot, dia mau menerbitkan artikelku asal aku mau mempertanggung jawabkannya.
Artikel itu dimuat di tempat biasa, tempat kecil dengan judul "Taukah Pemerintah tentang kehidupan Rakyatnya?"
Setelah koran tersebut terbit, banyak email yang masuk ke redaksi menyampaikan kekaguman akan tulisanku. Mereka merasa terwakili dengan cerita Pak Basir yang aku kaitkan dengan isi artikelnya. Namun ada juga yang sangat keberatan dengan isinya, mereka bahkan menuduh bahwa tokoh Pak Basir itu hanya fiktif dan karanganku saja.
Namun aku cuek saja, selama mereka masih menanggapinya dalam hal wajar.
Setelah kejadian itu aku sering menemui Pak Basir dan keluarganya, hanya untuk sekedar bercerita dan berbagi pengalaman hidup.
Bagiku, keluarga Pak Basir adalah keluarga kedua dalam hidupku setelah keluargaku sendiri.
Dibuat saat mengerjakan soal TO Bhs. Inggris di Sekolah tercinta SMK Jayawisata 2 Jaktim (masih tetap menuntut keadilan Pemerintah)
Disinilah aku sekarang, duduk di pinggiran kota Jakarta hanya untuk mencari sebuah berita yang pantas aku berikan untuk atasanku. Bukan berita besar namun berita yang menarik bagi pembaca, lama aku termenung, menatap langit-langit yang mulai keemasan. Hari makin sore namun aku belum dapat 1 beritapun.
Saat sedang termenung dan memikirkan nasibku, aku menatap sekelabatan bayangan di ujung jalan.
Tak lama aku melihat seorang lelaki tua sedang menarik gerobak sampah yang isinya sudah kosong, di wajahnya terlihat wajah lelah dan peluh keringat saat menariknya. Pelan tapi pasti, dengan sisa-sisa tenaganya ia menarik gerobaknya dan melewatiku.
Tidak terlalu jelas namun aku bisa melihatnya, ada senyum ikhlas di wajah bapak itu.
Saat dia mulai jauh entah apa yang membuatku berlari menuju ke arahnya dan memperkenalkan diriku.
***
Namanya Pak Basir, seorang suami dan ayah bagi 5 anaknya. Bekerja sebagai tukang sampah yang penghasilannya tidak bisa dibilang cukup, istrinya seorang pedangang sayuran keliling.
Dulu sekali sebelum menjadi tukang sampah, Pak Basir adalah seorang buruh pabrik yang penghasilannya cukup namun sayang pabrik tempatnya bekerja gulung tikar dan memecat semua pegawainya termasuk Pak Basir.
Hampir beberapa bulan mereka luntang-lantung mencari sesuap nasi, Pak Basir sibuk keluar rumah dan mencari pekerjaan. Namun jaman sekarang mana ada kantor menerima pegawai baru yang cuma lulusan SMA?
Pada masa sulit itu, anak-anak Pak Basir sering sekali menangis kelaparan di dalam kontrakkan. Tetannga yang tidak tega memberi makanan seadanya untuk mereka.
Tak lama, mereka diusir dari kontrakan karena tidak mampu membayar uang sewanya. Akhirnya dengan sangat terpaksa mereka pergi dan mencari tempat tinggal baru.
Dan disinilah sekarang mereka tinggal, di daerah pemukiman kumuh dengan keadaan rumah yang sangat memprihatinkan.
Dindingnya hanya tersusun dari triplek-triplek bekas dan hanya ada 1 ruangan di dalamnya, sungguh sangat kecil untuk sebuah keluarga yang besar seperti Pak Basir.
Saat malam datang, tak ada yang bisa menghangatkan badan mereka yang terkena hawa dingin tak ada pula lampu yang menerangi mereka.
Kekurangan itulah yang membuat hati ini miris.
Anak Pak Basir yang paling sulung berhenti sekolah dan bekerja di pasar sebagai tukang semir sepatu untuk menambah biaya hidup. Pak Basir tidak tega melihat anaknya bekerja namun kondisinya sekarang tidak bisa dipaksakan.
Sempat Pak Basir senang dengan adanya program sekolah gratis bagi keluarga yang kurang mampu namun ternyata pengurusannya susah dan seakan sengaja di buat susah.
Dan akhirnya Pak Basir menyerah dan pasrah dengan jalan yang telah ditakdirkan.
Aku merekam semua cerita Pak Basir melalui alat perekamku sambil menahan haru yang tercipta di rumahnya yang mulai gelap.
Setelah itu aku pamit untuk pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.
Aku pulang dengan rasa berkecamuk. Antara sedih, marah, dan merasa tidak adil. Ternyata bukan cuma aku yang merasa kekurangan, masih banyak oranglain disana yang jauh lebih layak mendapatkan uluran tangan pemerintah.
Sesampainya dirumah, aku taruh kamera dan tasku di atas kasur. Aku nyalakan komputerku dan mulai menulis apa yang di aku dapatkan hari ini.
***
Editor menyipitkan matanya saat membaca artikel yang aku buat semalam suntuk. Ia sangat berat untuk menerbitkannya di koran, terlalu menyindir pemerintah katanya. Aku memaksanya untuk menerbitkannya, apa salahnya menerbitkan sebuah artikel yang menyindir. Bukannya itu tugas wartawan? Pikirku.
Akhirnya setelah paksaan dan perbincangan yang cukup alot, dia mau menerbitkan artikelku asal aku mau mempertanggung jawabkannya.
Artikel itu dimuat di tempat biasa, tempat kecil dengan judul "Taukah Pemerintah tentang kehidupan Rakyatnya?"
Setelah koran tersebut terbit, banyak email yang masuk ke redaksi menyampaikan kekaguman akan tulisanku. Mereka merasa terwakili dengan cerita Pak Basir yang aku kaitkan dengan isi artikelnya. Namun ada juga yang sangat keberatan dengan isinya, mereka bahkan menuduh bahwa tokoh Pak Basir itu hanya fiktif dan karanganku saja.
Namun aku cuek saja, selama mereka masih menanggapinya dalam hal wajar.
Setelah kejadian itu aku sering menemui Pak Basir dan keluarganya, hanya untuk sekedar bercerita dan berbagi pengalaman hidup.
Bagiku, keluarga Pak Basir adalah keluarga kedua dalam hidupku setelah keluargaku sendiri.
Dibuat saat mengerjakan soal TO Bhs. Inggris di Sekolah tercinta SMK Jayawisata 2 Jaktim (masih tetap menuntut keadilan Pemerintah)
Minggu, 27 Maret 2011
Surat Untuk Presiden
Namaku Amir, bocah berumur 12 tahun yang hidup dengan ibuku di suatu pemukiman miskin sudut Ibukota. Ayahku meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan, aku mempunyai seorang adik perempuan berumur 6 tahun.
Aku yang duduk di bangku kelas 6 SD sering membantu ibuku bekerja, beliau bekerja sebagai tukang cuci rumah-rumah warga. Tidak tega dengannya aku ikutan mencari uang setelah pulang sekolah, menjadi seorang buruh angkut di pasar dekat rumahku.
Kadang beliau marah melihatku bekerja namun ini pilihan hidup kami, kalau saja aku dilahirkan sebagai anak seorang kepala pemerintahan aku tidak akan begini. Aku juga memikirkan keadaan adikku yang harus makan-makanan yang bergizi, aku tidak tega melihatnya hanya makan tahu-tempe setiap hari.
Tahun ini aku akan menamatkan sekolahku dan berniat melanjutkannya namun kendala biaya menjadi penyebab utamanya, ibuku jadi lebih sering bekerja untuk menambah biaya masuk sekolahku nanti. Aku juga tidak berpangku tangan, sebelum menjadi buruh angkut aku bekerja sebagai pengantar koran sore ke rumah-rumah.
Sebenarnya aku tidak ingin melanjutkan sekolahku, kasihan ibuku. Namun beliau memaksa, katanya aku harus menjadi orang pintar supaya bisa menjadi kaya.
Ditiap sembahyangku aku selalu berdoa kepada Tuhan agar meringankan beban kami, meringankan beban ibuku. Namun Tuhan belum mengabulkan doaku. Ibu selalu menangis di tiap sembahyangnya, aku makin tidak tega.
Sore ini aku menulis surat, surat untuk orang penting. Orang nomor 1 di Indonesia dan aku harap dia mau membacanya.
Aku tulis rapi suratku agar dia mau menerimanya, aku selipkan kalimat-kalimat indah yang aku pelajari di sekolah.
Aku bercerita tentang kehidupanku, kehidupan rakyat miskin yang susah untuk mencari sesuap nasi. Mungkin apa yang aku tulis mewakili perasaan semua masyarakat kelas bawah.
Aku bertanya, inikah janji presiden kala masih menjadi calon? Harusnya janji itu ditepati, janji mensejahterakan masyarakatnya.
Jujur, kami sebagai kalangan miskin merasa diasingkan dan merasa tidak di perhatikan padahal pada saat pemilihan suara kami juga di pakai.
Pemerintah terlalu sibuk dengan urusan kenaikan gaji dan pembangunan gedung baru. Sedangkan untuk membuat rakyat sejahtera? Cuma janji. Pemerintah bagiku bodoh, mereka pikir kita makan dengan janji mereka?
Sejenak ku pandangi tulisanku kemudian aku melanjutkannya dengan beberapa kalimat.
Selesai sudah surat itu, aku melipatnya dan memasukkannya ke amplop. Kuberikan nama dan tujuan di amplop tersebut. Aku berjalan ke kantor Pos dan menyerahkannya kepada petugas.
Dia sempat bingung saat membaca nama di amplopnya "untuk Presiden dari seorang anak kecil dari golongan bawah yang meminta keadilan" kataku padanya kemudian aku berjalan keluar kantor Pos yang sendirian di depan mejanya sambil memandangi suratku.
Untuk Pemerintah, dari seorang remaja berumur 18 tahun yang meminta keadilan
Aku yang duduk di bangku kelas 6 SD sering membantu ibuku bekerja, beliau bekerja sebagai tukang cuci rumah-rumah warga. Tidak tega dengannya aku ikutan mencari uang setelah pulang sekolah, menjadi seorang buruh angkut di pasar dekat rumahku.
Kadang beliau marah melihatku bekerja namun ini pilihan hidup kami, kalau saja aku dilahirkan sebagai anak seorang kepala pemerintahan aku tidak akan begini. Aku juga memikirkan keadaan adikku yang harus makan-makanan yang bergizi, aku tidak tega melihatnya hanya makan tahu-tempe setiap hari.
Tahun ini aku akan menamatkan sekolahku dan berniat melanjutkannya namun kendala biaya menjadi penyebab utamanya, ibuku jadi lebih sering bekerja untuk menambah biaya masuk sekolahku nanti. Aku juga tidak berpangku tangan, sebelum menjadi buruh angkut aku bekerja sebagai pengantar koran sore ke rumah-rumah.
Sebenarnya aku tidak ingin melanjutkan sekolahku, kasihan ibuku. Namun beliau memaksa, katanya aku harus menjadi orang pintar supaya bisa menjadi kaya.
Ditiap sembahyangku aku selalu berdoa kepada Tuhan agar meringankan beban kami, meringankan beban ibuku. Namun Tuhan belum mengabulkan doaku. Ibu selalu menangis di tiap sembahyangnya, aku makin tidak tega.
Sore ini aku menulis surat, surat untuk orang penting. Orang nomor 1 di Indonesia dan aku harap dia mau membacanya.
Aku tulis rapi suratku agar dia mau menerimanya, aku selipkan kalimat-kalimat indah yang aku pelajari di sekolah.
Aku bercerita tentang kehidupanku, kehidupan rakyat miskin yang susah untuk mencari sesuap nasi. Mungkin apa yang aku tulis mewakili perasaan semua masyarakat kelas bawah.
Aku bertanya, inikah janji presiden kala masih menjadi calon? Harusnya janji itu ditepati, janji mensejahterakan masyarakatnya.
Jujur, kami sebagai kalangan miskin merasa diasingkan dan merasa tidak di perhatikan padahal pada saat pemilihan suara kami juga di pakai.
Pemerintah terlalu sibuk dengan urusan kenaikan gaji dan pembangunan gedung baru. Sedangkan untuk membuat rakyat sejahtera? Cuma janji. Pemerintah bagiku bodoh, mereka pikir kita makan dengan janji mereka?
Sejenak ku pandangi tulisanku kemudian aku melanjutkannya dengan beberapa kalimat.
Selesai sudah surat itu, aku melipatnya dan memasukkannya ke amplop. Kuberikan nama dan tujuan di amplop tersebut. Aku berjalan ke kantor Pos dan menyerahkannya kepada petugas.
Dia sempat bingung saat membaca nama di amplopnya "untuk Presiden dari seorang anak kecil dari golongan bawah yang meminta keadilan" kataku padanya kemudian aku berjalan keluar kantor Pos yang sendirian di depan mejanya sambil memandangi suratku.
Untuk Pemerintah, dari seorang remaja berumur 18 tahun yang meminta keadilan
Kamis, 24 Maret 2011
We Are SHINING STAR
Udah lama ga posting, yup ! banyak cerita di hidup gue yang ga bisa gue bagi buat banyak orang. Gue juga ngerasa gue sedikit individualistis, gue ngerasa gue jadi tipe orang yang bodo amat sama kehidupan oranglain. Mungkin pengaruh lingkungan juga sih :D
Bukan itu sih yang mau gue permasalahin disini, bukan tentang cinta atau pengkhianatan dari sahabat hahaha *curcol*
Gue cuma mau berbagi cerita, dimana gue menikmati pertemanan gue dengan beberapa orang temen gue di sekolah. Bukan dari jurusan yang sama, itulah yang membedakan kami. Bagi gue perbedaan itu menyatukan segalanya dan gue harap pertemanan gue sama mereka ga berakhir di PROM NITE bulan Juli nanti.
Ya, kita menyatu karena KOREA. Hal sepele yang bikin gue akrab sama mereka, berawal dari 1 orang lalu merembet ke yang lainnya.
Jujur awalnya canggung, gue bingung gimana harus nyesuaiin keadaan gue sama mereka *takut ga nyambung bo omongannya*
Ternyata eh ternyata mereka lebih nyablak dari gue hahaha tapi gue seneng, seenggaknya mereka nganggep gue ada, nganggep gue temen dan nanyain keadaan gue *elaah pengen bet ditanyain* hahaha
Gue cuma mau bilang, makasih ya temen-temen sehati gue :)
Vini Vionola, Kyunelza Scarlet, Nate 'aciie'bald, Zhyta 'Hitomi Arishima', Nika Efriandini, Megaa Rosyana Dewii dan Dhebii Septiianii
Bukan itu sih yang mau gue permasalahin disini, bukan tentang cinta atau pengkhianatan dari sahabat hahaha *curcol*
Gue cuma mau berbagi cerita, dimana gue menikmati pertemanan gue dengan beberapa orang temen gue di sekolah. Bukan dari jurusan yang sama, itulah yang membedakan kami. Bagi gue perbedaan itu menyatukan segalanya dan gue harap pertemanan gue sama mereka ga berakhir di PROM NITE bulan Juli nanti.
Ya, kita menyatu karena KOREA. Hal sepele yang bikin gue akrab sama mereka, berawal dari 1 orang lalu merembet ke yang lainnya.
Jujur awalnya canggung, gue bingung gimana harus nyesuaiin keadaan gue sama mereka *takut ga nyambung bo omongannya*
Ternyata eh ternyata mereka lebih nyablak dari gue hahaha tapi gue seneng, seenggaknya mereka nganggep gue ada, nganggep gue temen dan nanyain keadaan gue *elaah pengen bet ditanyain* hahaha
Gue cuma mau bilang, makasih ya temen-temen sehati gue :)
Vini Vionola, Kyunelza Scarlet, Nate 'aciie'bald, Zhyta 'Hitomi Arishima', Nika Efriandini, Megaa Rosyana Dewii dan Dhebii Septiianii
Langganan:
Postingan (Atom)
Copy Paste hukumannya di penjara 5 tahun lho :). Diberdayakan oleh Blogger.